AqidahARTIKEL ISLAMSejarahWordpress

Jejak Pagan di Balik Gemerlap Natal (Bagian 1): Menelusuri Akar Kuno yang Terlupakan

Saat bulan Desember tiba, suasana di sekitar kita perlahan berubah. Pohon-pohon cemara berhias lampu kelap-kelip mulai muncul di pusat perbelanjaan, dan ucapan selamat bertebaran di media sosial.

Bagi sebagian besar orang, ini dianggap sebagai perayaan kelahiran Nabi Isa. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: Benarkah tanggal 25 Desember adalah hari kelahiran beliau? Dan dari mana sebenarnya tradisi kue, lilin, dan pesta ini berasal?

Jika kita membuka lembaran sejarah dan menelusuri literatur kuno, bahkan referensi Kristen sendiri, kita akan menemukan fakta yang mengejutkan. Ternyata, perayaan ini memiliki akar yang memiliki hubungan dengan paganisme (penyembahan berhala) jauh sebelum era Kekristenan dimulai.

Misteri Tanggal 25 Desember: Kelahiran Siapa Sebenarnya?

Fakta pertama yang perlu diketahui generasi muda Muslim adalah bahwa tidak ada satu pun catatan dalam kitab suci Kristen (Alkitab) yang menyebutkan tanggal kelahiran Yesus. Malah, bukti dalam Injil menunjukkan sebaliknya.

Dalam Injil Lukas disebutkan bahwa saat kelahiran Yesus, para gembala sedang berada di padang menjaga kawanan domba mereka pada malam hari. Secara geografis dan iklim di Palestina, hal ini mustahil terjadi di bulan Desember yang merupakan puncak musim dingin.

Gembala di Palestina tidak akan membiarkan domba di alam terbuka pada musim dingin yang menusuk tulang; mereka biasanya sudah memasukkan ternak ke kandang sejak pertengahan Oktober.

Lalu, milik siapakah tanggal 25 Desember itu?

Sejarah mencatat bahwa tanggal tersebut adalah milik kaum pagan (penyembah berhala). Di Roma kuno, periode akhir Desember dirayakan sebagai festival Saturnalia (pesta untuk dewa Saturnus) yang penuh hura-hura, yang kemudian disusul oleh perayaan Brumalia pada tanggal 25 Desember.

Tanggal 25 Desember dipercaya sebagai hari kelahiran Dewa Matahari (Sun-god) atau “Sol Invictus” (Matahari Tak Terkalahkan) saat titik balik matahari musim dingin terjadi.

Lebih jauh lagi ke masa Babilonia kuno, tanggal ini dikaitkan dengan Nimrod (Raja Namrud) yang dianggap sebagai dewa matahari, dan ibunya, Semiramis, yang dikenal sebagai “Ratu Langit“.

Legenda Babilonia menyebutkan bahwa setelah kematiannya, roh Nimrod mengunjungi pohon hijau yang tumbuh dari tunggul kayu mati setiap tahun pada tanggal 25 Desember untuk meninggalkan hadiah. Inilah cikal bakal “Pohon Natal” yang kita lihat hari ini.

Ulang Tahun: Ritual Sihir Yunani Kuno

Bukan hanya tanggalnya, konsep “merayakan ulang tahun” itu sendiri ternyata berakar dari tradisi penyembahan berhala. Para sejarawan mencatat bahwa orang-orang Yunani kuno percaya setiap manusia memiliki “roh pelindung” yang hadir saat kelahirannya, dan roh ini memiliki hubungan mistis dengan dewa pada hari kelahirannya.

Bagaimana dengan kue dan lilin?

Tradisi ini bermula dari pemujaan terhadap Artemis, dewi bulan dan perburuan bangsa Yunani. Mereka biasa meletakkan kue madu berbentuk bulat (seperti bulan) yang dihiasi lilin menyala di atas altar kuil Artemis.

Nyala lilin dalam keyakinan pagan kuno dipercaya memiliki kekuatan sihir khusus untuk mengabulkan permohonan dan melindungi orang yang berulang tahun dari gangguan roh jahat. Jadi, ketika seseorang meniup lilin dan memanjatkan permohonan (“Make a wish“), tanpa sadar ia sedang meniru ritual kuno pemujaan berhala.

Sikap Umat Terdahulu: Menolak, Bukan Merayakan

Menariknya, umat Kristen generasi awal (sebelum abad ke-4 Masehi) justru sangat anti terhadap perayaan ulang tahun, termasuk ulang tahun Yesus.

Ensiklopedia Katolik dan Britannica pun mengakui bahwa perayaan Natal tidak pernah diperintahkan oleh Yesus maupun para muridnya, melainkan menyusup masuk belakangan dari tradisi pagan.

Tokoh gereja awal seperti Origen (abad ke-3 M) bahkan mencemooh gagasan merayakan kelahiran Kristus layaknya Firaun. Dalam pandangan mereka, Alkitab hanya mencatat perayaan ulang tahun dilakukan oleh orang-orang fasik seperti Firaun dan Raja Herodes, yang mana dalam kedua pesta tersebut terjadi peristiwa pembunuhan yang mengerikan.

Bagi orang-orang beriman terdahulu, hari kelahiran bukanlah momen pesta pora, melainkan hari biasa. Baru ketika pengaruh paganisme Romawi dan Babilonia mulai mendominasi, batas antara kebenaran wahyu dan tradisi berhala mulai kabur.

Inilah jejak sejarah yang sering kali terkubur di bawah tumpukan kado dan gemerlap lampu hias. Natal, pada hakikatnya, bukanlah warisan ajaran Nabi Isa, melainkan daur ulang dari ritual penyembahan Dewa Matahari dan tradisi sihir kuno.

***

Referensi:

  1. Alukah.net: “Al-Ihtifal bi ‘Id al-Milad ‘Adah Watsaniyyah” (Perayaan Natal adalah Kebiasaan Pagan).

  2. Saaid.org: “Id al-Milad (Christmas) wa Asluhu al-Watsani” (Natal dan Asal-Usul Pagannya – Ditulis oleh Peneliti Nasrani). https://saaid.org/mktarat/aayadalkoffar/46.htm

  3. Facebook Note (Sejarah Gereja): “Id al-Milad fi at-Tarikh” (Natal dalam Sejarah).

Related Articles

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button