FIKIHIbadah

Pahala Qurban Orang Tua atas Nama Anaknya: Kajian Fiqh Perspektif Mazhab Syafi’i

Persoalan apakah orang tua yang menyembelih hewan qurban atas nama anaknya tetap memperoleh pahala merupakan salah satu cabang pembahasan dalam bab udhiyah yang luput dari perhatian banyak kalangan. Artikel ini mengkaji persoalan tersebut secara komparatif berdasarkan pendapat-pendapat ulama Syafi’iyah klasik dan kontemporer, dengan merujuk kepada sumber-sumber muktamad. Kesimpulannya adalah bahwa orang tua selaku shahibul qurban dipastikan memperoleh pahala, sementara perselisihan ulama terletak pada apakah pihak yang diniatkan turut memperoleh pahala qurban secara penuh.


1. Pendahuluan

Ibadah qurban (udhiyah) merupakan sunnah muakkadah yang sangat ditekankan dalam syariat Islam, bahkan sebagian ulama menghukuminya wajib. Di tengah tradisi berqurban masyarakat Muslim, muncul sebuah pertanyaan: apakah orang tua yang berqurban atas nama anaknya tetap mendapat pahala? Pertanyaan ini mengandung dua dimensi: pertama, apakah qurban satu kambing boleh diniatkan untuk lebih dari satu orang; kedua, jika boleh, kepada siapakah pahala itu jatuh?

Para ulama Syafi’iyah membahas persoalan ini secara detail, dengan landasan dalil naqli dan ta’lil fiqhiyah yang beragam, sehingga menghasilkan beberapa pendapat yang menarik untuk ditelusuri.


2. Status Hukum Qurban dan Konsep Sunnah Kifayah

Para ulama Syafi’iyah menetapkan bahwa udhiyah berstatus sunnah muakkadah bagi setiap Muslim yang mampu1. Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfat al-Muhtaj menyatakan bahwa jika anggota keluarga (ahlu al-bait) lebih dari satu, qurban menjadi sunnah kifayah, artinya gugurnya tuntutan sunnah bagi seluruh anggota keluarga apabila salah satu di antara mereka telah melaksanakannya. Jika hanya seorang, maka qurban adalah sunnah ‘ain bagi dirinya.2

Definisi ahlu al-bait dalam bab ini, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Ramli mengutip Imam Nawawi, adalah mereka yang terhimpun dalam tanggungan nafkah seorang pemberi nafkah (man talazmuhum nafaqatu munfiqin wahid). Ini mencakup istri, anak-anak, dan siapa pun yang wajib dinafkahi, termasuk orang tua yang dalam kondisi tidak mampu.

وَالْأَقْرَبُ أَنَّ الْمُرَادَ بِأَهْلِ الْبَيْتِ مَنْ تَلْزَمُ نَفَقَتُهُمْ

Yang paling tepat bahwa yang dimaksud dengan ahlu al-bait adalah mereka yang nafkahnya menjadi tanggungan (shahibul qurban).3


3. Dalil-Dalil Pokok

3.1 Hadis Abu Ayyub Al-Anshari

Al-Bayhaqi meriwayatkan dari jalur Imam Malik dalam Ma’rifat al-Sunan wal Atsar hadis no. 18928:

كُنَّا نُضَحِّي بِالشَّاةِ الْوَاحِدَةِ يَذْبَحُهَا الرَّجُلُ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ، ثُمَّ تَبَاهَى النَّاسُ بَعْدُ، فَصَارَتْ مُبَاهَاةً

Dahulu seorang laki-laki menyembelih satu ekor kambing untuk dirinya dan keluarganya, kemudian orang-orang berlomba-lomba (menambah jumlah) sehingga jadilah ajang pamer.4

Hadis ini diriwayatkan Imam Malik dalam al-Muwaththa’, dan dinilai hasan sahih oleh Al-Tirmidzi. Imam Al-Nawawi dalam al-Majmu’ menjadikannya dalil utama kebolehan satu kambing mewakili seluruh keluarga.5

3.2 Hadis Aisyah tentang Nabi SAW Berqurban atas Nama Umatnya

Al-Bayhaqi dalam Ma’rifat al-Sunan, no. 18931 meriwayatkan dari Muslim:

بِسْمِ اللهِ، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

“Dengan nama Allah, ya Allah terimalah dari Muhammad, dari keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad.”6

Imam Ibrahim Al-Maruzi dan Shahib al-‘Uddah sebagaimana dikutip Al-Nawawi dalam Raudhah al-Thalibin oleh Al-Isnawi menjadikan hadis ini dalil bahwa mengikutsertakan orang lain dalam pahala qurban adalah sah dan dibolehkan (jāza), karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri mempraktikkannya.7

3.3 Hadis Jabir: Qurban atas Nama yang Belum Berqurban

Al-Bayhaqi juga meriwayatkan dalam Ma’rifat al-Sunan, no. 18936 hadis Abu Dawud dari Jabir:

هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

“Ini dariku dan dari siapa pun di antara umatku yang belum berqurban.”8

Hadis ini memperkuat prinsip bahwa niat qurban dapat mencakup pihak lain.


4. Perbedaan Pendapat Ulama

4.1 Pendapat Pertama: Pahala Sepenuhnya Milik Shahibul Qurban

Al-Khatib Al-Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj menyatakan dengan tegas:

لَكِنَّ الثَّوَابَ فِيمَا ذُكِرَ لِلْمُضَحِّي خَاصَّةً؛ لِأَنَّهُ الْفَاعِلُ، كَمَا فِي الْقَائِمِ بِفَرْضِ الْكِفَايَةِ

Namun pahala dalam hal ini adalah milik shahibul qurban semata, karena dialah yang melakukan, seperti halnya orang yang melaksanakan fardhu kifayah.9

Ini adalah posisi yang juga dipegang Al-Ramli dalam Nihāyat al-Muhtāj:

وَمَعْنَى كَوْنِهَا سُنَّةَ كِفَايَةٍ مَعَ كَوْنِهَا تُسَنُّ لِكُلٍّ مِنْهُمْ: سُقُوطُ الطَّلَبِ بِفِعْلِ الْغَيْرِ، لَا حُصُولُ الثَّوَابِ لِمَنْ لَمْ يَفْعَلْ، كَصَلَاةِ الْجَنَازَةِ

Maknanya sunnah kifayah adalah gugurnya tuntutan karena perbuatan orang lain, bukan diperolehnya pahala bagi yang tidak berbuat, seperti halnya shalat jenazah.10

Ta’lil (alasan hukum):

Pahala amal terikat kepada pelakunya, karena dialah yang menunaikan perbuatan (al-fā’il), mengorbankan harta, dan mewujudkan niat. Orang yang tidak melakukan apa-apa tidak berhak atas pahala kecuali dengan sarana yang diakui syara’.11

4.2 Pendapat Kedua: Boleh Mengikutsertakan Orang Lain dalam Pahala

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim sebagaimana dikutip Al-Ramli, Al-Khatib Al-Syirbini, dan Al-Bujairami dalam Hasyiyah-nya menyatakan:

أَنَّهُ لَوْ أَشْرَكَ غَيْرَهُ فِي ثَوَابِهَا جَازَ، وَأَنَّهُ مَذْهَبُنَا

“Sesungguhnya jika ia mengikutsertakan orang lain dalam pahala qurbannya, hal itu dibolehkan, dan itulah mazhab kami.”12

Al-Nawawi mencontohkan caranya: “asyraka-ka aw fulānan fī tsawābihā” mengucapkan “aku ikutsertakan kamu atau si Fulan dalam pahalanya.” Bahkan menurut Al-’Abbadi hal ini boleh dilakukan meski setelah niat qurban untuk dirinya sendiri.

Ta’lil:

Ini diqiyaskan dengan kebolehan bersedekah atas nama orang lain (al-ṣadaqah ‘an al-ghair), yang pahalanya bisa sampai kepada yang diniatkan berdasarkan ijmak.13 Imam Nawawi menegaskan dalilnya adalah hadis Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berqurban seraya menyebut nama keluarga dan umatnya.14

4.3 Pendapat Al-Isnawi: Mengikutsertakan Orang yang Tidak Berniat Adalah Lebih Lemah

Al-Isnawi dalam al-Muhimmat mengkritisi pendapat Nawawi dengan menyatakan:

وَلِقَائِلٍ أَنْ يَمْنَعَهُ وَهُوَ الْأَوْجَهُ، وَيَقُولُ: الْأَحَادِيثُ الْوَارِدَةُ بِالْأَمْرِ وَعِبَارَاتُ الْأَئِمَّةِ إِنَّمَا دَلَّتْ عَلَيْهِ فِي حَقِّ مَنْ أَرَادَ التَّضْحِيَةَ، وَهَذَا لَمْ يُرِدْهَا

“Ada pendapat yang menolaknya dan itulah yang lebih kuat, dengan alasan: semua hadis yang datang berupa perintah dan ungkapan para imam hanya menunjukkan hal itu bagi orang yang memang menghendaki berqurban sedangkan orang ini tidak menghendakinya.”15

Semua hadis dan ungkapan para imam hanya berbicara tentang orang yang memang berniat berqurban.

4.4 Posisi Ibnu Hajar Al-Haitami: Pengikutsertaan Hanya untuk Mayit

Dalam at-Tuhfah sebagaimana dikutip oleh Ba’alawi, dan Al-Kurdi dalam al-Mawahib al-Madaniyyah, Ibnu Hajar membatasi kebolehan mengikutsertakan pahala hanya untuk orang yang telah meninggal, diqiyaskan dengan sedekah atas nama mayit. Adapun untuk yang masih hidup, beliau menyatakan “bi khilāfi al-ḥayy” berbeda halnya dengan yang masih hidup.16


5. Analisis: Apakah Orang Tua Mendapat Pahala?

Berdasarkan telaah di atas, pertanyaan awal dapat dijawab dengan jelas: orang tua selaku shahibul qurban sudah pasti mendapatkan pahala, bahkan menurut semua pendapat yang ada. Alasannya:

  1. Orang tua adalah al-fā’il (pelaku) yang menyembelih dan mengeluarkan harta.

  2. Orang tua pemilik niat (al-niyyah) yang menghidupkan amal.

  3. Pahala qurban sejatinya menjadi hak shahibul qurban yang melaksanakannya.

Adapun persoalan apakah si anak turut mendapat pahala adalah masalah yang diperselisihkan, dengan tiga sikap ulama:

  • Boleh (Al-Nawawi, Al-Khatib, Al-Ramli, Al-Bujairami): dengan cara menyebutkan secara lisan atau dalam hati niat mengikutsertakan.

  • Hanya untuk mayit (Ibnu Hajar): pengikutsertaan sah hanya untuk yang telah wafat.

  • Lebih kuat tidak dapat (Al-Isnawi): yang tidak berniat qurban tidak masuk dalam cakupan hadis-hadis perintah qurban.


6. Penutup

Mayoritas ulama Syafi’iyah, termasuk Imam Nawawi, Al-Khatib Al-Syirbini, Imam Al-Ramli, dan Al-Bujairami berpendapat bahwa mengikutsertakan anggota keluarga yang masih hidup dalam pahala qurban adalah sah dan dibolehkan, dengan menyatakan secara lisan atau dalam hati saat menyembelih. Landasan utamanya adalah hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berqurban seraya menyebut nama keluarga dan umatnya, serta kaidah bahwa mendoakan orang lain agar mendapat bagian pahala amal adalah masysru’.

Adapun orang tua selaku yang menyembelih, ia adalah pihak yang paling berhak atas pahala tersebut, karena Pahala qurban pada dasarnya dan terutama adalah milik shahibul qurban yang melakukan penyembelihan.” Wallahu a’lam bi al-shawab.

Daftar Pustaka

1Syams al-Din Muhammad ibn Ahmad ibn Hamzah Al-Ramli, Nihayat al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj (Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 1984), 8:910.

2Abd al-Hamid Al-Shirwani dan Ahmad ibn Qasim Ibn Qasim al-’Abadi, Hawasyi al-Syirwani wa Ibn Qasim al-’Abadi ’ala Tuhfat al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj (Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 1983), 12:246.

3Al-Ramli, Nihayat al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, Jil. 8: Hal. 911.

4Ahmad ibn al-Husain ibn Ali Abu Bakr Al-Bayhaqi, Ma’rifat al-Sunan wa al-Atsar, Jil. 14, ed. oleh Abd al-Mu’ti Amin Qal’aji (Dar Qutayba, 1991), 393–394.

5Syams al-Din Muhammad ibn Ahmad Al-Khatib Al-Syirbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifat Ma’ani Alfazh al-Minhaj (Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 1994), 6:126.

6Al-Bayhaqi, Ma’rifat al-Sunan wa al-Atsar, 14: 410.

7Jamal al-Din Abd al-Rahim ibn al-Hasan Al-Isnawi, Al-Muhimmat fi Syarh al-Raudhah wa al-Rafi’i, vol. 9, ed. oleh Ahmad ibn Ali Abu al-Fadhl Al-Dimyati (Dar Ibn Hazm, 1999), 385–386.

8Al-Bayhaqi, Ma’rifat al-Sunan wa al-Atsar, 14:436.

9Al-Khatib Al-Syirbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifat Ma’ani Alfazh al-Minhaj, 6:126.

10Al-Ramli, Nihayat al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, 8:910.

11Al-Ramli, Nihayat al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, 8:131; Al-Khatib Al-Syirbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifat Ma’ani Alfazh al-Minhaj, 6:126; Sulayman ibn Muhammad ibn Umar Al-Bujairami, Hasyiyah al-Bujairami ’ala Syarh Manhaj al-Tullab (Matba’ah Mustafa al-Babi al-Halabi, 1951), 4:295.

12Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifat Ma’ani Alfazh al-Minhaj, 6:126; Nihayat al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, 8:131; Hasyiyah al-Bujairami ’ala Syarh Manhaj al-Tullab, 4:295.

13Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn al-Husain ibn Umar Ba’alawi, Bughyat al-Mustarsyidin fi Talkhis Fatawa Ba’dh al-A’immah min al-’Ulama’ al-Muta’akhkhirin (Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 2004), 318.

14Al-Khatib Al-Syirbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifat Ma’ani Alfazh al-Minhaj, 6:126.

15Al-Isnawi, Al-Muhimmat fi Syarh al-Raudhah wa al-Rafi’i, 9:451–52.

16Muhammad ibn Sulayman al-Madani al-Syafi’i Al-Kurdi, Al-Mawahib al-Madaniyyah ’ala Syarh al-Muqaddimah al-Hadramiyyah (Dar al-Wara’, 1888), 4:679; Ba’alawi, Bughyat al-Mustarsyidin fi Talkhis Fatawa Ba’dh al-A’immah min al-’Ulama’ al-Muta’akhkhirin, 318.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button