Merasakan Nikmatnya Ilmu: Ringkasan Bab Pertama
Al-Mutaladzidzun bil-'Ilm: Siyar wa Durar (Penikmat Ilmu: Perjalanan Hidup dan Mutiara Hikmah)

Apa Itu Ladzdzah (Kenikmatan)?
Kata ladzdzah dalam bahasa Arab punya banyak bentuk turunan, tapi semuanya berputar di satu makna: enaknya rasa sesuatu, kesenangan yang dialami batin saat menemukan apa yang ia cari.
Ibnu Taimiyah rahimahullah (w. 728H) mendefinisikannya:
«اللذة حال يعقب إدراك الملائم، فليست اللذة مجرد ذوقه، بل أمر يجده من نفسه يحصل مع الذوق»
“Kenikmatan adalah kondisi yang muncul setelah menyadari sesuatu yang sesuai. Bukan sekadar mencicipi, tapi sesuatu yang ia temukan dalam dirinya sendiri, bersamaan dengan proses mencicipi itu.”
Muridnya, Ibnul Qayyim rahimahullah (w. 751H), meringkasnya lebih sederhana:
«اللذة حالة تنشأ عن الإدراك، من الالتذاذ والفرح والسرور»
“Kenikmatan adalah kondisi yang lahir dari persepsi: dari rasa nikmat, bahagia, dan suka cita.”
Satu pertanyaan menarik: apakah kenikmatan bisa muncul tanpa didahului rasa sakit?
Bisa saja, seperti orang yang tiba-tiba menemukan jawaban atas masalah ilmu. Tapi yang lebih sering terjadi: nikmat yang datang setelah perjuangan terasa jauh lebih manis dari nikmat yang datang begitu saja.
Fakhruddin ar-Razi (w. 606H) membagi kenikmatan manusia jadi tiga jenis: indrawi seperti makan dan minum, imajinatif seperti kenikmatan jabatan dan kekuasaan, dan aqliah seperti kenikmatan ilmu dan pengetahuan. Yang terakhir inilah yang jadi pokok bahasan buku ini.
Ilmu: Apa yang Dimaksud?
Ilmu secara istilah adalah keyakinan yang pasti dan sesuai dengan kenyataan. Manusia berbeda dari hewan karena punya dua hal yang hewan tak punya: tutur kata yang mengantarkan pada pemahaman, dan akal yang mengantarkan pada ilmu.
Ilmu itu bertingkat-tingkat. Puncaknya, kata Ibnu Taimiyah, adalah ilmu tentang Allah: nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan syariat-Nya.
Al-Ghazali (w. 505H) bahkan lebih tegas:
«العلم لذيذ، وألذ العلوم العلم بالله تعالى وبصفاته وأفعاله»
“Ilmu itu nikmat, dan ilmu yang paling nikmat adalah ilmu tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.”
Kenikmatan ilmu bisa dirasakan di tiga titik: sebelum mendapatkannya (saat mencari dan merindukan), saat mendapatkannya, dan setelah mendapatkannya. Dan kenikmatan itu mengalir di empat momen: nikmat mencari, nikmat bersusah payah, nikmat merendah diri untuk belajar, dan nikmat berkorban.
Mengapa Para Ulama Begitu Menikmati Ilmu?
Penulis menyebutkan sepuluh sebab. Tiga yang paling menonjol:
Pertama, karena ilmu adalah rezeki paling mulia yang mereka temukan. Whab bin Munabbih (w. 114H) menggambarkannya dengan indah:
«العلم كالغيث، ينزل من السماء حلوًا صافيًا، فتشربه الأشجار بعروقها، فتحوّله على قدر طعومها»
“Ilmu seperti hujan yang turun dari langit, manis dan jernih. Pohon-pohon menyerapnya lewat akar, lalu mengubahnya sesuai rasa masing-masing. Yang pahit makin pahit, yang manis makin manis.”
Kedua, karena mereka percaya pada janji Nabi ﷺ:
«من سلك طريقًا يلتمس فيه علمًا، سهّل الله له طريقًا إلى الجنة»
“Siapa yang menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
Ketiga, karena ilmu memberi mereka kemuliaan yang tak bisa dibeli dengan harta. Ibnul Qayyim menulis: “Ilmu adalah jalan tercepat menuju kenikmatan tertinggi.” Nikmat ruhani ini jauh melampaui nikmat jasmani, karena ia menyentuh bagian paling hakiki dari manusia.
Perbedaan antara Ilmu dan Wawasan
Ini bagian yang paling perlu direnungkan, terutama di era sekarang.
Suatu hari ada yang bertanya kepada Ayyub as-Sakhtiyani (w. 131H): “Ilmu sekarang lebih banyak atau dulu?”
Ia menjawab tanpa ragu:
«الكلام اليوم أكثر، والعلم فيما تقدم أكثر»
“Bicara (omongan) sekarang lebih banyak. Ilmu pada zaman dulu lebih banyak.”
Ibnul Qayyim mengomentari: “Orang yang kokoh ini membedakan antara ilmu dan bicara. Buku memang banyak, debat memang ramai, tapi ilmu sesungguhnya jauh dari kebanyakan itu semua.”
Ibnu Rajab (w. 795H) menambahkan:
«ليس العلم بكثرة الرواية، ولا بكثرة المقال، ولكنه نور يقذف في القلب، يفهم به العبد الحق، ويميز به بينه وبين الباطل»
“Ilmu bukan soal banyaknya riwayat yang dihafal, bukan soal banyaknya yang diucapkan, tapi cahaya yang ditempatkan Allah dalam hati; dengannya seorang hamba memahami kebenaran dan membedakannya dari kebatilan.”
Bayangkan ini: Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu’anhu, manusia paling berilmu setelah para nabi di umat ini, meriwayatkan hanya 142 hadis. Enam di antaranya disepakati Bukhari-Muslim. Itu bukan banyak.
Tapi siapa yang meragukan kedalamannya?
Yang sering terjadi hari ini justru sebaliknya: orang hafal lokasi faedah di halaman berapa, hafal judul-judul bab, tapi ketika diminta mendiskusikan satu ide dari pengarang tertentu, otaknya macet.
Ada yang pernah merasa begitu?
Penulis menyebut ini tadzawwuqât, cicipan-cicipan kecil dari sini sedikit, dari sana sedikit, tapi tidak ada gizi yang sesungguhnya masuk.
Imam Ahmad pernah ditanya seseorang tentang berwudhu dengan air mawar, air kacang, dan air bunga. Ahmad menjawab semua. Lalu ketika orang itu hendak pergi, Ahmad menghentikannya dan bertanya balik: “Apa yang kamu ucapkan saat masuk masjid?” Orang itu diam. “Dan saat keluar?” Tetap diam.
Ahmad berkata: “Pergi, pelajari ini dulu.”
Penyakit ini punya obatnya, dan penulis merangkumnya dalam satu kalimat klasik para ulama:
«العلم دَرْسٌ وتَلقِينٌ، لا طِرسٌ وتَرقِينٌ»
“Ilmu adalah proses belajar dan mengajar, bukan sekadar kertas dan tulisan indah.”
Tiga Ulama Masa Kita: Potret Orang yang Benar-Benar Menikmati Ilmu
Syekh Ibnu Baz (w. 1420H)
Ia bisa duduk di perpustakaan dua, tiga jam tanpa terasa. Katanya sendiri: “Duduk di antara buku-buku itu tidak membosankan. Kita berharap bisa membaca semua yang ada di perpustakaan ini, tapi kesibukan tidak membiarkan kita.”
Saat seseorang mengajaknya jalan-jalan menikmati musim semi, ia menolak. Ketika didesak bahwa jiwa perlu istirahat dan menghirup udara segar, ia menjawab sambil tersenyum: “Yang mau menghirup udara segar, cukup naik ke atap.”
Di malam wafatnya, dalam kondisi sangat sakit, ia masih menjawab pertanyaan-pertanyaan fiqih lewat telepon. Delapan urusan syar’i dibacakan kepadanya malam itu.
Syekh Albani (w. 1420H)
Ia masuk ke dunia hadis saat berusia dua puluh tahun, sambil bekerja sebagai tukang kayu lalu tukang jam untuk menafkahi keluarga. Cukup satu-dua jam bekerja, sisanya ia habiskan di Perpustakaan Zhahiriyah Damaskus, sampai lima belas jam sehari. Penjaga perpustakaan kadang memintanya mengunci pintu sendiri saat pulang.
Pernah ia berdiri di atas tangga rak buku untuk mengambil satu manuskrip. Lalu tanpa sadar ia baca di sana, berdiri di tangga, berjam-jam.
Kitab Sifat Shalat Nabi ﷺ yang ia tulis memuat 172 referensi. Lima puluh tujuh di antaranya bukan buku cetak, melainkan manuskrip yang ia salin sendiri dengan tangan.
Ketika matanya sakit dan dokter melarangnya membaca selama sebulan, ia cuma bertahan beberapa hari. Lalu ia minta seseorang menyalin untuknya sebuah manuskrip dari Zhahiriyah. Di tengah penantian itu, ia justru balik ke perpustakaan mencari satu halaman yang hilang, dan tanpa rencana, ia menulis empat puluh jilid catatan hadis dari sepuluh ribu manuskrip yang ada di sana.
Di atas ranjang sakaratul maut, setiap kali tersadar dari sakitnya ia berkata: “Ambilkan Jarh yang pertama, berikan Jarh yang kedua” — maksudnya, kitab Al-Jarh wat-Ta’dil.
Dua hari sebelum wafat, putrinya bercerita: “Ia tidak berhenti mencoba memanfaatkan setiap celah waktu, walau hanya lima menit. Setiap kali berhasil memecahkan suatu masalah, matanya berkaca-kaca dan ia berkata dengan haru dan bahagia bercampur: ‘Allahu Akbar! Bagaimana bisa ada yang bilang ilmu hadis sudah matang dan terbakar?!'”
Syekh Ibnu Utsaimin (w. 1421H)
Waktu mudanya ia rutin datang ke perpustakaan seorang hakim di Unaizah, duduk di sana sampai menjelang Zuhur.
Ia punya kebiasaan yang terlihat aneh tapi sebenarnya penuh hikmah: perjalanan dari rumah ke masjid tidak boleh diganggu gugat untuk pertanyaan apapun, karena itu waktunya istighfar, zikir, dan mengulang hafalan Al-Qur’an. Tapi perjalanan pulang dari masjid ke rumah? Silakan tanya sebanyak-banyaknya. Hasilnya, fatwa-fatwa yang ia jawab di jalan itu saja sudah dicetak dalam satu jilid tebal berisi lebih dari dua ribu fatwa.
Selama tujuh belas Ramadan berturut-turut, ia mengisi waktu antara Tarawih dan Qiyam dengan menafsirkan ayat yang baru dibaca imam, lalu sesi tanya jawab, diselingi kuis yang topiknya tidak melulu fiqih, bisa juga astronomi, ilmu kesehatan, teka-teki.
Di malam ke-29 Ramadan terakhir hidupnya, ia dipindahkan dari Masjidil Haram ke rumah sakit di Jeddah setelah kondisinya memburuk. Setelah Ashar kondisinya sedikit membaik. Ia bersikeras ingin kembali ke Makkah. Keluarganya mencegah, tapi ia berkata: “Jangan halangi kami dari pahala ini. Ini malam terakhir Ramadan.” Mereka pun berangkat ke Makkah dengan dokter yang ikut mendampingi. Ia mengajar malam itu, di dalam ruangan Haram, dengan peralatan medis masih terpasang.
Menutup semua kisah ini, ada perkataan seorang faqih Hanafi, Muhammad bin Hasan (w. 189H), yang setiap kali begadang menyelesaikan masalah-masalah ilmu dan akhirnya ia temukan jawabannya, ia berkata:
«أين أبناء الملوك من هذه اللذات؟!»
“Di mana anak-anak para raja dibanding kenikmatan seperti ini?!”
Semoga Allah merahmati mereka semua dan menempatkan mereka di surga yang lapang.
***
Al-Baddah, Rasyid bin Abdurrahman bin Ruddan. (2024). Al-Mutaladzidzun bil-‘Ilm: Siyar wa Durar (Penikmat Ilmu: Perjalanan Hidup dan Mutiara Hikmah). Cetakan Pertama. Az-Zulfi: Dar al-Hijaz untuk Penerbitan dan Distribusi.




