Wordpress

Tawakal: Belajar dari Kitab-Kitab Syarah Riyad al-Shalihin

Bab Yakin dan Tawakal dalam Riyad al-Shalihin memuat tiga ayat dan beberapa hadis yang saling menguatkan satu sama lain. Dua kitab syarah utama: Dalil al-Falihin karya Ibnu ‘Allan dan Kunuz Riyad al-Shalihin membahasnya dari sudut pandang yang saling melengkapi: yang pertama lebih kuat dalam sisi istilah dan pendapat para ulama, sedangkan yang kedua lebih banyak mengeksplorasi dimensi praktis dan daw’ah.

Apa itu tawakal?

Para ulama berbeda redaksi dalam mendefinisikan tawakal, tapi intinya satu.

Abu Madyan merumuskannya sebagai:

وثوقك بالمضمون واستبدالك الحركة بالسكون

“kepercayaan penuh terhadap apa yang sudah dijamin Allah, dan menggantikan gerak (ikhtiar berlebih) dengan ketenangan.”

Yang lain mendefinisikannya lebih sederhana: menggantungkan diri kepada Allah, keluar dari rasa mengandalkan kekuatan sendiri, dan menyerahkan urusan kepada-Nya.

Al-Qusyairi menambahkan poin penting:

محلّ التوكل القلب، والحركة بالظاهر لا تنافيه متى تحقّق العبد أن التقدير من فعل الله وحده

“Tawakal tempatnya di hati, bukan di tubuh. Bergerak dan berusaha secara lahiriah tidak bertentangan dengan tawakal, selama hati sudah yakin bahwa penentu hasil adalah Allah semata.”

Ibnu al-Qayyim menyebut tawakal sebagai separuh agama. Separuh lainnya adalah inabah (kembali kepada Allah).

التوكل عند ابن القيم: نصف الدين والنصف الثاني الإنابة، فإن الدين استعانة وعبادة، «فالتوكل هو الاستعانة والإنابة هي العبادة».

“Agama itu istianah dan ibadah,” tulisnya, “tawakal adalah istianah-nya, inabah adalah ibadah-nya.”

Sementara itu, Said bin Jubair merangkumnya lebih singkat:

التوكل على الله جماع الإيمان

“Tawakal kepada Allah adalah inti iman.”

Soal derajatnya, para ulama membaginya menjadi tiga tingkatan: tawakal (bersandar pada janji Allah), taslim (cukup dengan ilmu-Nya), dan tafwidh (rida dengan hukum-Nya).


Dua Aliran dalam Memahami Tawakal

Ada perbedaan nyata di antara para ulama soal bagaimana tawakal berhubungan dengan usaha. Al-Qadhi ‘Iyadh mencatat dua kubu:

  1. sebagian ahli tasawuf berpandangan bahwa tawakal sejati tidak akan bercampur dengan rasa takut kepada selain Allah, bahkan tidak perlu mencari rezeki karena yakin dengan jaminan-Nya.
  2. Kubu kedua, yang dipegang mayoritas fukaha, mengatakan bahwa berusaha dan mengambil sebab adalah sunnah Allah dan hikmah-Nya. Tawakal bukan berarti tidak bekerja, melainkan bekerja sambil tidak menggantungkan hati kepada pekerjaan itu.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin tegas di sini:

مَن ظن أن معنى التوكل ترك الكسب بالبدن وترك التدبير بالقلب والسقوط على الأرض كالخرقة الملقاة فذلك ظن الجهال، فإن ذلك حرام في الشرع والشرع قد أثنى على المتوكلين

“Siapa yang menyangka tawakal berarti meninggalkan usaha fisik dan membiarkan diri tergeletak seperti kain basah, itu adalah sangkaan orang bodoh. Syariat melarang hal demikian, dan memuji orang-orang bertawakal.”


Surah Al-Ahzab ayat 22: Iman yang Justru Tumbuh di Tengah Ancaman

وَلَمَّا رَاَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْاَحْزَابَۙ قَالُوْا هٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَصَدَقَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ ۖوَمَا زَادَهُمْ اِلَّآ اِيْمَانًا وَّتَسْلِيْمًاۗ
Ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Benarlah Allah dan Rasul-Nya. Hal itu justru makin menambah keimanan dan keislaman mereka.
Yang dijanjikan Allah Swt. dan Rasul itu adalah kemenangan setelah mengalami kesukaran.

Ketika kaum kafir mengepung Madinah dari berbagai penjuru dalam Perang Khandaq, respons para sahabat tidak biasa. Mereka tidak panik, tidak bertanya “mengapa ini terjadi.” Mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya benar.” Pengepungan itu justru menambah iman dan ketundukan mereka, bukan sebaliknya.

Ayat ini menyimpan pelajaran yang sering terlewat: bagi orang yang benar-benar bertawakal, ujian berat tidak menggeser keyakinan mereka. Sebaliknya, ujian berfungsi membuktikan bahwa janji Allah tentang cobaan sebelum kemenangan itu benar. Semakin berat ujiannnya, semakin jelas terbukti kebenaran janji itu.


Surah Ali Imran 173-174: Hasbunallah wa Ni’mal Wakil

اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ*

فَانْقَلَبُوْا بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوْۤءٌۙ وَّاتَّبَعُوْا رِضْوَانَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَظِيْمٍ
(yaitu) mereka yang (ketika ada) orang-orang mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan (pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”
Mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah. Mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mereka mengikuti (jalan) rida Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.

Latar belakang ayat ini adalah pasca-Perang Uhud. Abu Sufyan mengancam akan kembali menyerang di Pasar Badar al-Shughra. Nuaim bin Mas’ud al-Asyja’i mencoba menakut-nakuti kaum Muslimin dengan memberitahu bahwa pasukan besar sedang berkumpul.

Reaksi para sahabat?

Justru iman mereka bertambah, lalu mereka mengucapkan kalimat yang terkenal itu: “Hasbunallah wa ni’mal wakil, cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik penolong.”

Al-Farra menjelaskan bahwa kata “wakeel” di sini bermakna al-kafil wa al-kafi, yaitu penjamin sekaligus yang mencukupi. Maknanya: Allah yang menjamin dan Dia sebaik-baik penjamin. Apa yang terjadi kemudian?

Abu Sufyan tidak jadi datang, para sahabat berdagang di pasar itu dan pulang dengan keuntungan, selamat tanpa ada yang terluka.

Allah sendiri menegaskan: “Mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, tidak ada keburukan yang menimpa mereka.”


Surah Al-Furqan ayat 58: Bertawakal Kepada yang Tidak Pernah Mati

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهٖۗ وَكَفٰى بِهٖ بِذُنُوْبِ عِبَادِهٖ خَبِيْرًا ۚ
Bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Hidup yang tidak mati dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya.

Perintah Allah kepada Nabi saw., “Bertawakallah kepada Yang Hidup, yang tidak mati,” menyimpan argumen yang sangat sederhana.

Siapa yang diandalkan pasti suatu saat akan pergi.

Mengandalkan kekayaan? Kekayaan bisa habis.

Mengandalkan kekuatan? Kekuatan punya batas.

Mengandalkan manusia? Manusia mati.

Satu-satunya yang tidak pernah pergi adalah Allah, maka hanya kepada-Nya tawakal itu seharusnya diarahkan.


Hadis doa Ibnu Abbas: “Allahumma laka aslamtu…”

عن ابن عباس رضي الله عنهما أيضا: أن رسول الله – ﷺ – كان يقول: «اللهم لك أسلمت، وبك آمنت، وعليك توكلت، وإليك أنبت، وبك خاصمت. اللهم أعوذ بعزتك؛ لا إله إلا أنت أن تضلني، أنت الحي الذي لا تموت، والجن والإنس يموتون». متفق عليه،

Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah ﷺ biasa mengucapkan,
“Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku bertaubat, dan dengan-Mu aku menghadapi musuh. Ya Allah, aku berlindung dengan keagungan-Mu, yang tiada tuhan selain Engkau, agar Engkau tidak menyesatkanku. Engkaulah Yang Maha Hidup yang tidak akan mati, sementara jin dan manusia akan mati.”

 

Ibnu Hubairah membaca doa ini sebagai urutan yang bermakna. Penyerahan diri (islam) adalah langkah pertama. Keimanan adalah maqam di atasnya. Tawakal adalah buah dari iman itu. Inabah adalah kelengkapannya. Dan bersandar dengan pertolongan Allah adalah puncaknya, bukan bersandar dengan kemampuan sendiri, tapi dengan dukungan dan pertolongan Allah.

Kalimat penutup doa itu, “Engkau Yang Hidup yang tidak mati, sedangkan jin dan manusia mati,” bukan sekadar pernyataan teologis. Ini adalah alasan mengapa doa ini dimulai dan diakhiri dengan penyerahan total: karena semua yang lain akan berakhir, hanya Allah yang tidak.


Hadis Ibrahim dan Muhammad: Dua Situasi, Satu Kalimat

عن ابن عباس رضي الله عنهما أيضا، قال: حسبنا الله ونعم الوكيل، قالها إبراهيم – ﷺ – حين ألقي في النار، وقالها محمد – ﷺ – حين قالوا: إن الناس قد جمعوا لكم فاخشوهم فزادهم إيمانا وقالوا: حسبنا الله ونعم الوكيل. رواه البخاري.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’, kalimat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika beliau dilemparkan ke dalam api. Dan kalimat ini pula yang diucapkan oleh Nabi Muhammad ﷺ ketika ada orang-orang yang berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya orang-orang (kaum musyrik) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’. Namun perkataan itu justru menambah keimanan mereka (kaum muslimin) dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.’” (HR. Bukhari)

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa “Hasbunallah wa ni’mal wakeel” diucapkan oleh dua nabi dalam dua situasi paling sullit yang bisa dibayangkan.

Ibrahim mengucapkannya saat tubuhnya hendak dilempar ke dalam api yang menyala-nyala dan dalam riwayat lain disebutkan bahwa itu adalah kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum terjun ke dalam nyala api itu. Muhammad saw. mengucapkannya saat pasukan besar bersiap menyerang.

Yang menarik dari riwayat tentang Ibrahim adalah konteksnya: malaikat penjaga air menawarkan bantuan, malaikat angin menawarkan bantuan, tapi Ibrahim menolak keduanya. Ia hanya minta kepada Allah. Setelah itu, Allah memerintahkan api agar menjadi dingin dan selamat bagi Ibrahim.

Ibnu al-Qayyim menyebutnya sebagai bukti bahwa kekuatan tawakal bisa melahirkan keajaiban, karena ia menyentuh langsung kuasa Yang Maha Kuasa.


Hadis Burung: Tawakal Bukan Alasan untuk Tidak Bekerja

عن عمر – رضي الله عنه – قال: سمعت رسول الله – ﷺ – يقول: «لو أنكم تتوكلون على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير، تغدو خماصا وتروح بطانا». رواه الترمذي، (١) وقال: «حديث حسن». معناه: تذهب أول النهار خماصا: أي ضامرة البطون من الجوع، وترجع آخر النهار بطانا. أي ممتلئة البطون.

Rasulullah saw. bersabda: “Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian seperti Dia memberi rezeki kepada burung, berangkat pagi dalam keadaan perut kosong, pulang sore dalam keadaan kenyang.”

Al-Baihaqi sudah lebih dulu menjelaskan apa yang sering disalahpahami dari hadis ini: bukan dalil untuk berdiam diri. Justru sebaliknya.

Burung itu berangkat dan pulang, ia bergerak.

Ibnu Rajab meringkasnya:

قال ابن رجب: «هذا الحديث أصل في التوكل، وأنه أعظم الأسباب التي يستجلب بها الرزق».

“Hadis ini adalah prinsip utama tentang tawakal, dan tawakal adalah sebab terkuat untuk mendatangkan rezeki.”

Yang dimaksud tawakal yang benar adalah ketika seseorang bekerja dan bergerak, tapi keyakinan hatinya bukan pada kerja kerasnya itu, melainkan pada Allah yang mengatur hasilnya.

Seorang Muslim harus bekerja di bumi sambil matanya menatap langit. Mengambil sebab, tapi yakin bahwa bukan sebab itu yang memberi rezeki. Karena rezeki sudah ditetapkan di langit:

وَفِى السَّمَاۤءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ

“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu” (Adz-Dzariyat: 22).

Wallahu A’lam.


Daftar Pustaka

Ibn ‘Allan al-Shiddiqiy al-Syafi’i al-Makkiy, Muhammad ‘Ali (w. 1057 H). Dalil al-Falihin li Thuruq Riyadh al-Shalihin. Tahqiq: Khalil Ma’mun Syiha. Cet. IV. Beirut: Dar al-Ma’rifah li al-Thiba’ah wa al-Nasyr wa al-Tawzi’, 1425 H / 2004 M. 4 jilid. ISBN: 9953-429-72-3.

Al-‘Ammar, Hamad bin Nashir bin ‘Abd al-Rahman (ketua tim ilmiah). Kunuz Riyadh al-Shalihin. Cet. I. Riyadh: Dar Kunuz Isybiliya li al-Nasyr wa al-Tawzi’, 1430 H / 2009 M. 22 jilid. ISBN: 978-603-8011-94-2.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button