FIKIHWordpress

Tabarruk Di Kubur Nabi

Beberapa waktu yang lalu, ramai di dunia media sosial tentang masalah tabarruk dengan kuburan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Hal ini terjadi, setelah ada dialog terbuka yang terjadi, dengan menghadirkan narasumber yang memiliki kompetensi yang cukup. Disana dibahas beberapa perkara, termasuk masalah tabarruk dengan kuburan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Disini, penulis hanya fokus menyoroti masalah tabarruk dengan kuburan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Namun, dengan skala yang lebih sempit, yaitu dari sudut pandang para fuqoha, wabil khusus fuqoha Syafiiyyah. Maka kita katakan, bahwa tabarruk berasal dari kata tabarroka-yatabarraku yang makna bahasa kurang lebih adalah mencari keberkahan dari sesuatu. Dan, perlu kita catat. Hukum tabarruk, tergantung bagaimana bentuknya, sehingga tidak bisa dipukul rata; semua tabarruk adalah boleh atau terlarang.

Maka kami paparkan beberapa bentuk ngalap berkah terhadap kuburan Nabi shallallahu alaihi wa sallam beserta sudut pandang ulama fikih dalam menetapkan hukumnya, diantaranya;

  1. Dengan meminta kepada Nabi shallallahu alaih wa sallam secara jelas di kuburannya.Dengan mengatakan misalkan; ‘wahai Rasulullah, bantu kami, tolong kami, tunaikan hajat kami…’ dan semisalnya. Maka ini terlarang dan haram sesuai kesepakatan ulama Islam, bukan hanya ulama Syafiiyyah. Allah Ta’ala dalam surat Al-Ahqaf ayat 5, berfirman;

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

“Dan siapa yang lebih sesat dibandingkan orang yang berdoa kepada selain Allah yang tidak mampu mengijabahi hingga hari kiamat, dan mereka (yang disembah) abai dari doa-doa mereka.”

Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya (7/525) mengatakan;

قُلْ أَيْ لِهَؤُلَاءِ الْمُشْرِكِينَ الْعَابِدِينَ مَعَ اللَّهِ غَيْرَهُ أَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَيْ أَرْشِدُونِي إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي اسْتَقَلُّوا بِخَلْقِهِ مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّماواتِ أَيْ وَلَا شِرْكَ لَهُمْ فِي السَّمَوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ، إِنِ الْمُلْكُ وَالتَّصَرُّفُ كُلُّهُ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَكَيْفَ تَعْبُدُونَ مَعَهُ غَيْرَهُ وَتُشْرِكُونَ بِهِ؟

“Katakan kepada orang musyrik itu yang menyembah selain Allah bersama saat mereka juga menyembah Allah, apakah pendapat kalian tentang apa yang kalian berdoa kepada selain Allah itu ? Tunjukkan pada-Ku apa yang sudah mereka ciptakan dari bagian bumi, maknanya; tunjukkan pada-Ku tempat di bumi ini dimana mereka ciptakan sendiri. Atau mereka punya andil dalam menciptakan langit, maknanya; mereka tidak punya andil sama sekali dalam masalah langit dan bumi, juga tidak memiliki apapun meskipun kulit kurma. Sungguh kepemilikan dan pengaturan semua hanya punya Allah, maka bagaimana kalian bisa menyembah selain-Nya ?”

  1. Dengan melakukan shalat ataupun thowaf disisi kuburan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.Maka ini terlarang. Syaikh Al-Khothib As-Syirbini (w.977 H) dalam Hasyiyah ‘ala Al-Ghuror Al-Bahiyyah (2/337) menyatakan;

وَفِي الْمَجْمُوعِ يَحْرُمُ الطَّوَافُ بِقَبْرِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُكْرَهُ إلْصَاقُ بَطْنِهِ أَوْ ظَهْرِهِ بِجِدَارِهِ وَمَسُّهُ بِيَدِهِ وَتَقْبِيلُهُ هَذَا هُوَ الصَّوَابُ الَّذِي أَطْبَقَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ وَلَا تَغْتَرَّ بِمُخَالَفَةِ كَثِيرِينَ مِنْ الْعَوَامّ اهـ

“Dan dalam kitab Al-Majmu’; diharamkan thowaf di kuburan beliau shallallahu alaih wa sallam, dimakruhkan menempelkan perut atau punggung di tembok kuburan, dan mengusapnya dengan tangan, dan menciumnya, dan ini yang benar, yang sudah diamalkan oleh ulama dan jangan sampai kau tertipu dengan penyimpangan banyak orang yang awwam.”

Syaikh Al-Khothib As-Syirbini (w.977 H) dalam Mughnil Muhtaj (2/284) serta Syamsuddin Al-Romli dalam Nihayatul Muhtaj (3/320) menyatakan;

وَلْيَحْذَرْ مِنْ الطَّوَافِ بِقَبْرِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَمِنْ الصَّلَاةِ دَاخِلَ الْحُجْرَةِ بِقَصْدِ تَعْظِيمِهِ وَيُكْرَهُ إلْصَاقُ الظَّهْرِ وَالْبَطْنِ بِجِدَارِ الْقَبْرِ كَرَاهَةً شَدِيدَةً وَمَسْحُهُ بِالْيَدِ وَتَقْبِيلُهُ بَلْ الْأَدَبُ أَنْ يَبْعُدَ عَنْهُ كَمَا لَوْ كَانَ بِحَضْرَتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَيَاتِهِ

“Dan hendaknya berhati-hati tidak thawaf di kuburan beliau shallallahu alaih wa sallam, ataupun shalat di dalam hujroh (kamar tempat kuburan beliau) dengan maksud mengagungkan beliau.”

  1. Dengan mengusap-usap dan menciuminya,maka ini terlarang dalam madzhab. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (8/275) menyatakan;

لَا يَجُوزُ أَنْ يُطَافَ بِقَبْرِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُكْرَهُ إلْصَاقُ الظُّهْرِ وَالْبَطْنِ بِجِدَارِ الْقَبْرِ قَالَهُ أَبُو عُبَيْدِ اللَّهِ الْحَلِيمِيُّ وَغَيْرُهُ قَالُوا وَيُكْرَهُ مَسْحُهُ بِالْيَدِ وَتَقْبِيلُهُ بَلْ الْأَدَبُ أَنْ يَبْعُدَ مِنْهُ كَمَا يَبْعُدُ مِنْهُ لَوْ حَضَرَهُ فِي حَيَاتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا هُوَ الصَّوَابُ الَّذِي قَالَهُ الْعُلَمَاءُ وَأَطْبَقُوا عَلَيْهِ وَلَا يُغْتَرُّ بِمُخَالَفَةِ كَثِيرِينَ مِنْ الْعَوَامّ وَفِعْلِهِمْ ذَلِكَ. فَإِنَّ الِاقْتِدَاءَ وَالْعَمَلَ إنَّمَا يَكُونُ بِالْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ وَأَقْوَالِ الْعُلَمَاءِ وَلَا يُلْتَفَتُ إلَى مُحْدَثَاتِ الْعَوَامّ وَغَيْرِهِمْ وَجَهَالَاتِهِمْ

“Dan tidak boleh thowaf di kubur beliau shallallahu alaih wa sallam, dan dimakruhkan menempelkan punggung dan perut di tembok kubur, sebagaimana dikatakan oleh Abu Abdillah Al-Hulaimiy. Yang mengatakan; dimakruhkan mengusap tembok dengan tangan, menciumnya. Tapi adabnya, sedikit menjauh sebagaimana kita sedikit menjauh dari beliau semasa hidupnya. Inilah yang benar, yang dikatakan oleh para ulama dan menjadi kesepakatan mereka dalam amalan. Dan jangan tertipu dengan penyimpangan banyak orang awam dan perbuatan mereka dari yang sudah dilarang. Sesungguhnya, mengikuti dan beramal itu dengan hadits-hadits yang shahih dan ucapan para ulama, dan tidak perlu ditoleh perkara bid’ah yang dilakukan orang awwam dan orang yang tidak berilmu dari mereka.”

Beliau juga menukil perkataan Fudhoil ibn ‘Iyyadh dalam Al-Majmu’ (idem);

اتَّبِعْ طُرُقَ الْهُدَى وَلَا يَضُرُّك قِلَّةُ السَّالِكِينَ وَإِيَّاكَ وَطُرُقَ الضَّلَالَةِ وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ وَمَنْ خَطَرَ بِبَالِهِ أَنَّ الْمَسْحَ بِالْيَدِ وَنَحْوَهُ أَبْلَغُ فِي الْبَرَكَةِ فَهُوَ مِنْ جَهَالَتِهِ وَغَفْلَتِهِ لِأَنَّ الْبَرَكَةَ إنما هي فيما وافق الشرع وكيف ينبغي الْفَضْلُ فِي مُخَالَفَةِ الصَّوَابِ

“Ikutilah jalan petunjuk dan jangan risau dengan sedikitnya orang yang menempuhnya. Dan berhati-hatilah dari jalan kesesatan dan jangan tertipu dengan banyaknya orang yang celaka. Dan siapa yang yg terbersit pikiran bahwa mengusap-usap dengan tangan dan semisalnya, lebih bagus dalam bertabarruk (ngalap berkah), maka dia itu termasuk kebodohannya dan kelalaiannya; karena barokah itu yang sesuai syariat. Bagaimana mungkin keuatamaan ada dalam perkara yang menyelisihi kebenaran ?”

Ibnu An-Naqib dalam Umdatus Salik (hal.145) menyatakan;

ولا يجوزُ الطوافُ بالقبرِ، ويُكرهُ إلصاقُ الظهرِ والبطنِ بهِ، ولا يُقَبِّلُهُ ولا يستلمُهُ

“Dan tidak boleh thowaf di kubur beliau, dimakruhkan menempelkan punggung dan perut disitu, tidak juga mencium, tidak juga mengusap.”

Sebagaimana dalam Hasyiyah Qolyubi wa Amiroh ‘ala Kanzi Al-Roghibin (2/159) juga disebutkan;

قَالَ فِي الْقُوتِ: وَيُكْرَهُ مَسْحُ الْجِدَارِ بِالْيَدِ وَتَقْبِيلُهُ وَكَذَا إلْصَاقُ الْبَطْنِ، أَوْ الظَّهْرِ بِالْجِدَارِ

“Berkata dalam kitab Al-Quut; Dan dimakruhkan mengusap tembok (kubur Nabi shallallahu alaihi wa sallam) dengan tangan dan menciumnya, demikian juga dengan menempelkan perut atau punggunnya ke tembok.”

Dan larangan ini disebutkan secara mutlak oleh para ashab syurroh, namun sebagian ashab hawasyi memberikan catatan; kecuali jika maksudnya adalah tabbaruk bukan ta’dzim.

Sebagaimana disebutkan oleh Ali As-Syubromilisi (w.1087 H) dalam Hasyiyah Nihayatul Muhtaj (3/320) lalu dinukil oleh Sulaiman Al-Jamal (w.1204 H) dalam Hasyiyah ‘ala Manhaj At-Thullab (2/483);

(قَوْلُهُ وَتَقْبِيلُهُ) ظَاهِرُهُ وَإِنْ قَصَدَ بِهِ التَّعْظِيمَ، لَكِنْ مَرَّ فِي الْجَنَائِزِ بَعْدَ نَقْلِ كَرَاهَةِ تَقْبِيلِ التَّابُوتِ مَا نَصُّهُ: نَعَمْ إنْ قَصَدَ بِتَقْبِيلِ أَضْرِحَتِهِمْ التَّبَرُّكَ لَمْ يُكْرَهْ كَمَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى، فَيَحْتَمِلُ مَجِيءَ ذَلِكَ هُنَا، وَيَحْتَمِلُ الْفَرْقَ بِأَنَّهُمْ حَافَظُوا عَلَى التَّبَاعُدِ عَنْ التَّشَبُّهِ بِالنَّصَارَى هُنَا حَيْثُ بَالَغُوا فِي تَعْظِيمِ عِيسَى حَتَّى ادَّعَوْا فِيهِ مَا ادَّعَوْا، وَمِنْ ثَمَّ حَذَّرُوا كُلَّ التَّحْذِيرِ مِنْ الصَّلَاةِ دَاخِلَ الْحُجْرَةِ بِقَصْدِ التَّعْظِيمِ

“(Ucapan penulis: dan menciumnya) yang nampak jika hal itu dengan maksud ta’dzim (pengagungan). Akan tetapi telah berlalu dalam pembahasan jenazah, setelah penukilan makruh mencium peti jenazah, disebutkan; iya, jika maksudnya mencium tempat makam itu adalah tabarruk, maka tidak dimakruhkan, sebagaimana yang difatwakan oleh ayahku (Syihabuddin Al-Romli). Maka memungkinkan nash tersebut dihadirkan di bab ini. Dan perbedaannya, bahwa mereka (yang melarang mencium) menjaga agar tidak berlebih-lebihan sebagaimana perbuatan orang Nashrani, ketika berlebihan dalam mengagungkan Isa alaihissalam hingga klaim mereka tentangnya. Lalu mereka pun melarang shalat di hujrah (dalam ruang kuburan Nabi shallallahu alaihi wa sallam) ketika karena ta’dzim.”

Namun, jika kita melihat kepada apa yang dinukil oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’, dari Fudhoil bin Iyyadh. Terlihat isyarat dari beliau, bahwa praktek ini tidak membedakan mau itu bentuk ta’dzim atau tabarruk, sama saja terlarang.

Karena nukilan Imam Nawawi di akhir ucapan jelas sekali, larangan tersebut dalam masalah tabarruk, bukan ta’dzim;

لِأَنَّ الْبَرَكَةَ إنما هي فيما وافق الشرع وكيف ينبغي الْفَضْلُ فِي مُخَالَفَةِ الصَّوَابِ

“Karena barokah itu yang sesuai syariat. Bagaimana mungkin keuatamaan ada dalam perkara yang menyelisihi kebenaran ?”

  1. Dengan berdoa kepada Allah Ta’ala, namun bertawassul dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam disisi kuburan beliau, maka ini kembali kepada masalah hukum tawassul. Maka, dalam sudut pandang ulama fikih Syafii berpendapat kebolehan hal tersebut.  Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab (8/274) menyatakan;

ثُمَّ يَرْجِعُ إلَى مَوْقِفِهِ الْأَوَّلِ قُبَالَةَ وَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَتَوَسَّلُ بِهِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ وَيَسْتَشْفِعُ بِهِ إلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمِنْ أَحْسَنِ مَا يَقُولُ مَا حَكَاهُ الْمَاوَرْدِيُّ وَالْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ وَسَائِرُ أَصْحَابِنَا عَنْ الْعُتْبِيِّ مُسْتَحْسِنِينَ لَهُ قَالَ (كُنْت جَالِسًا عِنْدَ قَبْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْك يَا رَسُولَ اللَّهِ سَمِعْت اللَّهَ يَقُولُ (وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لهم الرسول لوجدوا الله توابا رحيما) وَقَدْ جِئْتُك مُسْتَغْفِرًا مِنْ ذَنْبِي مُسْتَشْفِعًا بِك إلَى رَبِّي

“Lalu dia (peziarah) kembali ke tempatnya semula, di arah wajah kubur Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dia bertawassul dengannya dalam hak dirinya, dan meminta syafaat kepada Allah dengan bertawassul dengan beliau. Dan diantara ucapan bagus yang disebutkan oleh Al-Mawardi, Al-Qodhi Abu Thoyyib, dan ashab yang lain dari Al-’Utbiy mengatakan: ‘Aku sempat duduk di sisi kubur, maka datanglah seorang arab badui, lalu berkata (Assalamualaika ya Rasulallah, aku mendengar Allah Ta’ala berfirman {Ketika mereka berbuat dzolim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka meminta ampun kepada Allah, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memintakan ampun untuk mereka, sungguh mereka mendapati bahwa Allah itu Maha Pemberi Taubat, Maha Pengasih}. Dan aku datang kepadamu wahai Nabi, aku meminta ampun dari dosa dan meminta syafaat kepada Allah Ta’ala dengan bertawassul dengamu).”

Syaikhul Islam Zakariya dalam Asna Al-Matholib (1/502) menyatakan;

ثُمَّ يَرْجِعُ إلَى مَوْقِفِهِ الْأَوَّلِ قُبَالَةَ وَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَتَوَسَّلُ بِهِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ وَيَسْتَشْفِعُ بِهِ

“Lalu dia kembali ke tempat semua di arah wajah kuburan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan bertawassul dengannya, untuk dirinya, dan meminta syafaat (kepada Allah) dengan beliau.”

Ibnu Roslan dalam Syarah Az-Zubad (hal.175) menyatakan;

ثمَّ يرجع إِلَى موقفه الأول قبالة وَجه رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم ويتوسل بِهِ فِي حق نَفسه ويستشفع بِهِ إِلَى ربه جلّ وَعلا

“Lalu dia kembali ke tempat semua di arah wajah kuburan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan bertawassul dengannya, untuk dirinya, dan meminta syafaat dengan beliau, kepada Rabb-nya Ta’ala.”

Ali ibn Al-Aththor dalam Al-Uddah Syarah Umdatul Ahkam (2/788) menyatakan;

وأما الدعاء عند قبره فلم يزل السلف والخلف يفعلون ويتوسلون إلى الله تعالى بالدعاء به صلى الله عليه وسلم عند قبره وغيره من البقاع من غير منع، والله أعلم

“Dan adapun berdoa disisi kuburan beliau maka para salaf dan kholaf senantiasa melakukannya, bertawassul kepada Allah dalam doa dengan bertawassul dengan beliau shallallahu alaihi wa sallam disisi kuburnya dan selain beliau dari tempat-tempat, tanpa ada pelarangan, wallahu ta’ala a’lam.”

Al-Khothib As-Syirbini dalam Mughnil Muhtaj (2/284) berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak secara marfu’ dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam;

لَمَّا اقْتَرَفَ آدَم الْخَطِيئَةَ قَالَ: يَا رَبِّ أَسْأَلُك بِحَقِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلَّا مَا غَفَرْتَ لِي، فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَكَيْفَ عَرَفْت مُحَمَّدًا وَلَمْ أَخْلُقْهُ. قَالَ: يَا رَبِّ لِأَنَّك لَمَّا خَلَقْتَنِي وَنَفَخْت فِي مِنْ رُوحِك رَفَعْتُ رَأْسِي، فَرَأَيْتُ فِي قَوَائِمِ الْعَرْشِ مَكْتُوبًا: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ، فَعَرَفْت أَنَّك لَمْ تُضِفْ إلَى نَفْسِك إلَّا أَحَبَّ الْخَلْقِ إلَيْك، فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى صَدَقْت يَا آدَم: إنَّهُ لَأَحَبُّ الْخَلْقِ إلَيَّ، إذْ سَأَلْتَنِي بِهِ فَقَدْ غَفَرْت لَك، وَلَوْلَا مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُك»

“Ketika Adam alaihissalam melakukan kesalahan, dia berkata; ‘Wahai Rabb, aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad shallallahu alaihi wa sallam jika tidak Kau ampuni aku.’ Maka Allah Ta’ala berfirman; ‘Bagaimana bisa kau tahu tentang Muhammad padahal aku belum menciptakannya ?’ Adam berkata; ‘Wahai Rabb, karena Engkau ketika menciptakanku dan meniupkan roh, lalu aku melihat di kaki-kaki Arsy tertulis (Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah). Lalu aku tahu, tidaklah Engkau menyandingkan dengan-Mu kecuali makhluk yang paling Engkau cintai.’ Maka Allah Ta’ala berfirman; ‘Kau benar wahai Adam, dia adalah makhluk yang paling Aku cintai, ketika kau meminta kepada-Ku dengan tawassul dengannya, aku akan ampuni, dan kalau bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu.”

Ini adalah pendapat resmi ulama Syafiiyyah, membolehkan tawassul dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam berdoa kepada Allah. Namun, sebagai tambahan referensi, sebagian ulama melarang bentuk tawassul ini. Diantaranya adalah ulama Hanafiyyah. Berkata Az-Zai’la’i dalam Tabyin Al-Haqoiq Syarah Kanz Ad-Daqoiq (6/31);

(وَبِحَقِّ فُلَانٍ) أَيْ يُكْرَهُ أَنْ يَقُولَ فِي دُعَائِهِ بِحَقِّ فُلَانٍ، وَكَذَا بِحَقِّ أَنْبِيَائِك، وَأَوْلِيَائِك أَوْ بِحَقِّ رُسُلِك أَوْ بِحَقِّ الْبَيْتِ أَوْ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ؛ لِأَنَّهُ لَا حَقَّ لِلْخَلْقِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى

“(Dengan hak fulan) yaitu dimakruhkan mengatakan dalam doanya ‘dengan hak fulan’, demikian juga ucapan ‘dengan hak para nabi dan para wali’ atau ‘dengan hak para rasul’ atau ‘dengan hak Ka’bah’ atau ‘dengan hak Masy’aril Haram’. Karena makhluk tidak punya hak apa-apa atas Allah Ta’ala.”

Al-Hashfaki dalam Ad-Durr Al-Mukhtar (6/397) menyatakan;

(وَ) كُرِهَ قَوْلُهُ (بِحَقِّ رُسُلِك وَأَنْبِيَائِك وَأَوْلِيَائِك) أَوْ بِحَقِّ الْبَيْتِ لِأَنَّهُ لَا حَقَّ لِلْخَلْقِ عَلَى الْخَالِقِ تَعَالَى

“Dan makruh ucapan ‘dengan hak para rasul, nabi, wali’ atau ‘dengan hak Ka’bah’. Karena makhluk tidak punya hak apa-apa atas Allah Ta’ala.”

Ibnu Abidin dalam Hasyiah Ad-Durr Al-Mukhtar (6/397), ketika menyebutkan beberapa takwil sebagaian ulama tentang masalah larangan tawassul, beliau berkata;

لَكِنَّ هَذِهِ كُلَّهَا احْتِمَالَاتٌ مُخَالِفَةٌ لِظَاهِرِ الْمُتَبَادَرِ مِنْ هَذَا اللَّفْظِ وَمُجَرَّدُ إيهَامِ اللَّفْظِ مَا لَا يَجُوزُ كَافٍ فِي الْمَنْعِ كَمَا قَدَّمْنَاهُ

“Akan tetapi ini semua hanyalah asumsi-asumsi yang bertentangan dengan dzohir yang terlintas dari lafadz ini, dan hanya bentuk kerancuan terhadap makna lafadz yang tidak bisa menghalangi larangan yang sudah disebutkan, sebagaimana telah kami sampaikan.”

Sehingga, masalah tawassul dengan hak atau kehormatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam ini ada khilaf ulama. Dan penulis secara pribadi condong kepada madzhab Hanafiyyah. Wallahu ta’ala a’lam.

Kesimpulan

Maka dari pemaparan panjang di atas, izinkan kami memberikan sebuah kesimpulan. Bahwa hukum tabarruk dengan kuburan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tidak bisa dipukul rata, namun melihat dari bentuk / praktik tabarruknya. Wallahu ta’ala a’lam.

 

Jombang, 2 Februari 2026

Danang Santoso

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button