Menyingkap Makna “Pengkhianatan Diri” dalam Ayat Puasa Ramadan

Dalam rangkaian ayat puasa, Allah Ta’ala berfirman:
عَلِمَ اللَّهُ أنَّكم كُنْتُمْ تَخْتانُونَ أنْفُسَكُمْ
“Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu (mengkhianati dirimu sendiri), lalu Allah menerima tobatmu dan memaafkanmu.”
Potongan ayat ini, jika ditelisik melalui kacamata tafsir, mengandung beberapa faidah menarik yang dapat dipetik.
1. Makna Pengkhianatan
Secara bahasa, kata khiyanah (khianat) adalah lawan dari wafa’ (setia atau menepati janji). Istilah ini digunakan secara luas dalam bahasa Arab.
Sebuah pedang yang tumpul dan gagal memotong disebut “pedang yang berkhianat” (khanahu al-saif). Waktu yang berubah menjadi buruk disebut zaman yang berkhianat. Begitu pula orang yang tidak membayar utang atau melanggar janji disebut pengkhianat.
Namun, dalam ayat ini, Allah tidak sekadar menggunakan kata khiyanah, melainkan takhtanuna yang berasal dari kata ikhtiyan. Para ahli bahasa, seperti penulis tafsir Al-Kasyaf, menjelaskan bahwa ikhtiyan memiliki makna ziyadah wa syiddah (tambahan dan intensitas).
Artinya, perbuatan yang dilakukan para sahabat saat itu bukan sekadar pelanggaran biasa, melainkan sebuah pergulatan batin yang sangat berat dan sering terjadi dalam menahan nafsu.
2. Objek yang Dikhianati
Jika kita perhatikan, ayat ini menyebutkan “kamu mengkhianati dirimu sendiri,” namun tidak menyebutkan secara jelas apa bentuk pengkhianatannya. Para ulama tafsir menyimpulkan objek pengkhianatan ini dengan melihat konteks ayat setelahnya, yaitu “maka sekarang campurilah mereka (istrimu).”
Ini menunjukkan bahwa pengkhianatan yang dimaksud adalah melakukan hubungan suami istri (jimak) pada waktu yang saat itu masih dilarang (yaitu setelah tidur atau setelah salat Isya). Allah menggunakan bahasa yang santun dengan menyembunyikan objeknya, namun hukumnya sangat jelas dipahami.
3. Mengapa Disebut Mengkhianati Diri Sendiri?
Mengapa Allah menyebut pelanggaran ini sebagai pengkhianatan terhadap diri sendiri, bukan pengkhianatan terhadap Allah?
Terdapat dua sudut pandang ulama dalam hal ini:
-
Pandangan Mayoritas:
Mereka yang melanggar larangan Allah secara sembunyi-sembunyi pada hakikatnya sedang mencelakakan diri mereka sendiri. Setiap dosa adalah pengkhianatan terhadap keselamatan jiwa karena dosa mendatangkan hukuman kelak di hari kiamat.
-
Pandangan Abu Muslim:
Beliau berpendapat bahwa maknanya adalah “kalian tidak memenuhi apa yang terbaik bagi jiwa kalian.” Menurutnya, Allah membedakan antara “mengkhianati Allah” (yang bermakna pembatalan iman) dengan “mengkhianati diri sendiri” (yang bermakna kelemahan dalam menjaga derajat iman yang paling utama).
4. Sebuah Potensi yang Diketahui Allah
Ada penafsiran lain yang sangat menarik. Kalimat “Allah mengetahui bahwa kalian mengkhianati diri sendiri” bisa bermakna bahwa Allah mengetahui potensi kelemahan manusia.
Allah tahu, seandainya larangan makan dan berhubungan suami istri di malam hari itu diteruskan selamanya, niscaya umat Islam akan jatuh dalam pengkhianatan massal. Oleh karena itu, hukum tersebut direvisi (dinasakh) sebagai bentuk pencegahan agar umat tidak terus-menerus berdosa.
5. Makna Tobat dan “Al-‘Afwu” (Pemaafan)
Ayat ini ditutup dengan kalimat “fataba ‘alaykum wa ‘afa ‘ankum”. Kata ‘afa (memaafkan) di sini menjadi kata kunci perdebatan fikih yang menarik.
Bagi pendukung adanya Nasakh, kata ini berarti pengampunan dosa atas pelanggaran yang sudah terlanjur dilakukan. Namun, bagi Abu Muslim, kata ‘afa di sini bermakna at-tausiah (memberikan kelonggaran dan kemudahan).
Hal ini didukung oleh hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
عَفَوْتُ لَكم عَنْ صَدَقَةِ الخَيْلِ والرَّقِيقِ
“Aku maafkan bagi kalian zakat kuda“
(HR. Abu Dawud (1574), At-Tirmidzi (620), dan An-Nasa’i (2477))
Kata “maaf” dalam hadis tersebut bukan berarti kuda itu berdosa, melainkan Rasulullah memberikan keringanan dengan tidak mewajibkan zakat atasnya. Begitu pun dalam puasa, Allah memberikan ‘afwu berupa keringanan hukum: yang tadinya haram menjadi halal, yang tadinya berat menjadi ringan.
Inilah indahnya syariat puasa. Ia tidak turun untuk menyiksa, melainkan mendidik. Ketika Allah melihat hamba-Nya kesulitan hingga “mengkhianati diri sendiri”, Dia datang dengan ‘afwu-Nya, mengubah kesulitan menjadi kemudahan yang penuh berkah hingga akhir zaman.
Sudah sepantasnya bagi kita untuk menyambut bulan Ramadhan dengan mempersiapkan bekal utama yaitu ilmu.
***
Mafatihul Ghaib, Ar-Razi, Vol. 5, Hal. 270-271





Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me?