ARTIKEL ISLAMSejarah

Air Zamzam Dicampur Air Biasa: Apakah Tetap Menjadi Air Zamzam?

Pertanyaan ini mungkin pernah terlintas di benak banyak orang, terutama mereka yang membawa air zamzam dari tanah suci dalam jumlah terbatas. Ketika persediaan menipis, muncullah keinginan untuk mencampurnya dengan air biasa agar bisa lebih banyak orang yang ikut merasakan manfaatnya.

Lalu, apakah air biasa yang dicampur air zamzam bisa “berubah” menjadi air zamzam sepenuhnya?

Jawabannya menarik untuk dikaji, baik dari sisi ilmiah maupun tinjauan syariat.

Klaim Ilmiah: Satu Tetes Mengubah Seribu Tetes?

Sebuah klaim yang cukup populer menyebutkan bahwa satu tetes air zamzam mampu mengubah sifat seribu tetes air biasa menjadi air zamzam. Klaim ini berdasarkan pada penelitian ilmuwan Jepang Masaru Emoto, yang dikutip dalam kajian Boshra dkk. (2021): penelitian nanotechnology menunjukkan bahwa ketika satu tetes air zamzam dicampurkan ke dalam seribu tetes air biasa, air tersebut dikatakan akan mengambil karakteristik air zamzam yang penuh berkah.

Namun perlu dicermati: klaim Emoto ini termasuk dalam kategori yang oleh para ilmuwan lain digolongkan sebagai pseudoscience, yakni pernyataan yang belum terbukti secara metodologi ilmiah yang ketat dan tidak dapat direplikasi secara konsisten dalam eksperimen independen. Artinya, secara saintifik yang terverifikasi, belum ada bukti kuat bahwa air biasa dapat “berubah total” menjadi air zamzam hanya dengan mencampurkan sedikit air zamzam ke dalamnya.

Yang Terbukti Ilmiah: Keunikan Komposisi Zamzam

Yang memang terbukti secara ilmiah adalah bahwa air zamzam memiliki komposisi yang khas dan berbeda dari air biasa. Boshra dkk. (2021) menyebutkan bahwa kandungan garam mineral dalam air zamzam mencapai 2000 mg/liter, jauh melampaui air mineral kemasan biasa yang hanya berkisar 150–350 mg/liter. Air zamzam bersifat alkalin dengan rata-rata pH 8, mengandung kalsium, magnesium, natrium, kalium, selenium, serta berbagai mineral penting lainnya dalam konsentrasi yang khas.

Justru karena keunikan komposisi inilah air zamzam tidak bisa “ditiru” begitu saja hanya dengan mencampur air biasa. Ketika air zamzam diencerkan dengan air lain, konsentrasi mineral-mineral tersebut akan menurun. Sebuah campuran bukan lagi memiliki profil kimia yang sama dengan air zamzam murni.

Mahmoud dkk. (2020) dalam penelitian mereka membuktikan bahwa konsumsi air zamzam murni selama tiga bulan berturut-turut pada mencit secara signifikan menurunkan kadar asam urat serum (p < 0,05), menurunkan kolesterol (p < 0,05), dan menurunkan trigliserida (p < 0,05), serta terbukti aman bagi fungsi hati dan ginjal. Manfaat-manfaat ini erat kaitannya dengan kandungan mineral khas air zamzam yang tidak akan sama proporsinya jika air sudah diencerkan.

Tinjauan Syariat: Berkah Tetap Ada, Tapi Proporsional

Dari sisi hukum Islam, para ulama juga memberikan jawaban. IslamQA (islamqa.info, no. 153234) mencatat pandangan para ulama bahwa jika air zamzam dicampur dengan air lain, campuran tersebut tetap membawa berkah air zamzam, namun sebanding dengan kadar air zamzam yang terkandung di dalamnya.

Dalam kitab Bada’i’ al-Sanai’ (3/63), al-Kasani menegaskan bahwa hukum sumpah “tidak akan minum air zamzam” tetap dianggap dilanggar meski air zamzam sudah bercampur dengan air lain yang lebih banyak, karena faktanya orang tersebut tetap meminum sebagian air zamzam.

Syekh Ibn Jibrin rahimahullah berpendapat bahwa yang lebih utama adalah meminum air zamzam dalam keadaan murni. Namun bila dicampur dengan air lain, hukum-hukum keutamaan zamzam tetap berlaku dan diperbolehkan untuk pengobatan, meskipun keutamaan tersebut tidak sekuat bila diminum dalam keadaan murni.

Kesimpulan

Air zamzam yang dicampur air biasa tidak “berubah” menjadi air zamzam sepenuhnya, baik secara ilmiah maupun syariat. Secara ilmiah, keunikan komposisi mineralnya akan terencerkan seiring bertambahnya volume air biasa.

Secara syariat, berkahnya tetap ada namun bersifat proporsional, semakin sedikit kandungan zamzam dalam campuran, semakin kecil pula keutamaannya. Yang paling dianjurkan adalah meminum air zamzam dalam keadaan murni, dengan niat yang baik, sebagaimana tuntunan Rasulullah ﷺ bahwa air zamzam adalah sesuai dengan niat peminumnya.

Wallahu A’lam.


Referensi:

  1. Mahmoud, H.S., dkk. (2020). Zamzam water is pathogen-free, uricosuric, hypolipidemic and exerts tissue-protective effects: relieving BBC concerns. American Journal of Blood Research, 10(6), 386–396.
  2. Boshra, A.Y., dkk. (2021). Composition, hydrology, and health benefits of Zamzam water. Revista Bionatura, 6(4). DOI: 10.21931/RB/2021.06.04.30
  3. IslamQA. (2011). Can you mix Zamzam with normal water? Islam Question & Answer, no. 153234. Diakses dari: https://islamqa.info/en/answers/153234

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button