AqidahARTIKEL ISLAM

“Siapa yang Menciptakan Allah?” Menjawab Keraguan Logika Kaum Ateis

Pernahkah terlintas di benak kita sebuah pertanyaan yang sering dianggap sebagai “senjata pamungkas” oleh kaum ateis dan sebagian orientalis:

“Jika segala sesuatu di alam semesta ini memiliki pencipta, lalu siapa yang menciptakan Allah?”

Pertanyaan ini bukanlah hal baru. Ia adalah salah satu keberatan tertua terhadap dalil penciptaan (dalilul khalqi wal ijad), namun ironisnya, ia tetap menjadi tren yang terus diproduksi ulang di media sosial untuk menggoyahkan iman generasi muda,.

Sebagai Muslim, kita tidak perlu panik. Islam telah memberikan jawaban yang sangat tuntas, baik melalui pendekatan logika (aqli) maupun dalil wahyu (naqli). Mari kita bedah syubhat ini dengan kacamata ilmiah.

Kesalahan Logika dalam Pertanyaan

Secara logika, pertanyaan “Siapa yang menciptakan Allah?” sebenarnya mengandung cacat logika (logical fallacy). Mari kita gunakan analogi sederhana yang sering digunakan para pakar:

Bayangkan seseorang bertanya,

“Apa jenis kelamin anak yang dilahirkan oleh seorang laki-laki?” atau “Siapa istri dari seorang bujangan?”

Tentu kita akan tertawa, karena pertanyaan itu sendiri kontradiktif.

Laki-laki tidak melahirkan, dan bujangan tidak punya istri.

Begitu pula dengan pertanyaan “siapa yang menciptakan pencipta”. Definisi Allah adalah Al-Khaliq (Sang Pencipta) yang tidak diciptakan. Mencari pencipta bagi Yang Tidak Diciptakan adalah kerancuan berpikir.

Sesuatu yang memiliki awal dan diciptakan disebut “makhluk”, sedangkan Tuhan adalah Sang Awal yang tidak didahului oleh apa pun.

Mustahilnya Rantai Tanpa Akhir (Tasalsul)

Para filosof seperti David Hume dan Bertrand Russell sering menggunakan argumen ini untuk menolak adanya Sebab Pertama. Mereka beranggapan jika Allah ada, maka Allah pun harus punya penyebab. Namun, logika ini justru akan membawa kita pada sesuatu yang tak berujung yang disebut tasalsul (regresi tak terbatas).

Gunakan permisalan prajurit:

Seorang prajurit tidak akan menembak sebelum diizinkan komandannya. Sang komandan tidak akan memberi izin sebelum diizinkan jenderal di atasnya, dan begitu seterusnya sampai tak terhingga.

Hasilnya?

Tembakan tidak akan pernah terjadi.

Karena realitanya alam semesta ini ada, maka secara logika harus ada satu titik henti, sebuah Sebab Pertama yang tidak disebabkan oleh apa pun.

Imam Al-Juwayni meringkasnya dengan indah:

ما يتسلسل لا يتحصل

“Sesuatu yang terus merantai tak terbatas, tidak akan pernah terwujud”.

Sains Mendukung: Alam Punya Permulaan

Dahulu, para ateis berlindung di balik teori bahwa alam semesta bersifat abadi (eternal). Namun, sains modern justru mematahkan klaim tersebut. Teori Big Bang dan Hukum Termodinamika Kedua membuktikan bahwa alam semesta memiliki titik awal dalam waktu.

Fisikawan Stephen Hawking mengakui bahwa bukti eksperimental menunjukkan alam semesta pasti punya permulaan. Jika alam punya permulaan, maka ia adalah “mungkin ada” (mumkinul wujud), yang berarti ia mutlak membutuhkan Wajibul Wujud, Dzat yang keberadaannya bersifat niscaya (harus ada) dan mandiri untuk menciptakannya. Allah berada di luar dimensi ruang dan waktu karena Dialah pencipta ruang dan waktu itu sendiri.

Bimbingan Nabawi Menghadapi Bisikan Syaitan

Pertanyaan “siapa yang menciptakan Allah” sering kali muncul bukan dari riset ilmiah, melainkan dari bisikan (waswas) syaitan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«يأتي الشيطانُ أحدكم فيقول من خلق كذا؟ من خلق كذا؟ حتى يقول : من خلق ربَّك؟ فإذا بلغه فليستعذ بالله ولينته. وفي رواية: «فليقل آمنت بالله»

“Syaitan akan mendatangi salah seorang dari kalian lalu bertanya: ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ sampai ia bertanya: ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu?'”,.

Menariknya, saat para sahabat Nabi merasa takut karena lintasan pikiran ini, Nabi ﷺ justru menenangkan mereka dengan menyebut bahwa perasaan takut itu adalah “tanda iman yang murni” karena mereka merasa berat untuk mengucapkannya.

Tiga Langkah Solusi Syariat

Berdasarkan sumber-sumber syariat, ada tiga langkah praktis bagi seorang Muslim saat menghadapi keraguan ini:

  1. Al-Isti’adzah: Memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan.
  2. Al-Intiha’: Segera berhenti dari memikirkan hal tersebut. Jangan teruskan logika yang rusak, karena akal manusia terbatas untuk menjangkau hakikat Dzat Tuhan,.
  3. Al-Iman: Tegaskan kembali keyakinan dengan berucap, “Amantu billah” (Aku beriman kepada Allah),.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 3:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin…”.

Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah titik akhir dari segala pencarian alasan.

Mempertanyakan pencipta Allah seperti seseorang yang melihat sebuah lukisan indah dan bertanya, “Siapa yang melukis pelukisnya?” Sang pelukis ada sebagai manusia, bukan sebagai lukisan. Allah adalah Pencipta, bukan bagian dari makhluk yang membutuhkan penciptaan.

Kesimpulan

Sikap seorang Muslim terhadap penciptaan alam semesta adalah meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini adalah tanda keberadaan Sang Pencipta yang Maha Agung.

Pertanyaan “siapa yang menciptakan Allah” hanyalah permainan kata-kata yang tidak memiliki bobot ilmiah maupun logika yang sehat.

Alam semesta ini adalah bukti nyata, dan Al-Qur’an adalah panduan akal kita agar tidak tersesat dalam spekulasi yang tak berujung.

***

Referensi: “Fa Man Khalaqa Allah?” (Siapa yang Menciptakan Allah), Markaz Salaf.

Related Articles

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button