AqidahARTIKEL ISLAM

Memahami 3 Kondisi Melihat Allah dalam Mimpi (Bagian 2)

Setelah pada bagian sebelumnya kita membahas mengenai kebolehan secara hukum dan logika mengenai melihat Allah dalam mimpi, kini muncul pertanyaan kembali:

“Lalu, bagaimana rupa yang terlihat? Apakah hanya cahaya, sosok tertentu, atau hanya sekadar suara?”

Para ulama yang mengizinkan terjadinya melihat Allah dalam mimpi menjelaskan bahwa pengalaman tersebut tidaklah seragam. Berdasarkan telaah terhadap sumber-sumber, terdapat tiga kondisi atau keadaan (haalat) saat seseorang “bertemu” dengan Tuhannya di alam bawah sadar.

1. Melihat Tanpa Rupa dan Tanpa Cara (Bila Kayf)

Kondisi pertama adalah kondisi yang paling tinggi. Sebagian ulama berpendapat bahwa seseorang mungkin saja melihat Allah dalam mimpi tanpa adanya bayangan rupa, bentuk, atau perumpamaan tertentu. Pengalaman ini mirip dengan keyakinan bagaimana orang beriman akan melihat Allah di akhirat kelak, yakni melihat Zat Allah yang Maha Agung tanpa bisa diserupakan dengan makhluk apa pun.

Logikanya, jika dalam kondisi terjaga kita meyakini sifat-sifat Allah yang Maha Suci tanpa membayangkan bentuknya (bila kayf), maka di dalam mimpi pun Allah bisa menampakkan keagungan-Nya dalam kondisi serupa.

Abu Muhammad Thahir al-Qazwini menjelaskan bahwa dalam kondisi ini, si pemimpi akan merasa sangat yakin di dalam hatinya bahwa yang ia hadapi adalah Tuhannya, namun ia akan merasa terpaku, terpana, dan kehilangan kata-kata untuk menceritakannya saat terbangun.

2. Melihat Melalui “Representasi” (Shurah Misal)

Kondisi kedua adalah yang paling banyak dibahas dan dialami, yaitu melihat Allah dalam bentuk sebuah “perumpamaan” atau representasi visual dalam mimpi. Penting untuk digarisbawahi bahwa rupa yang terlihat dalam mimpi bukanlah hakikat Zat Allah yang sebenarnya, karena Allah tidak menyerupai apa pun (Laysa kamislihi syai’un).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memberikan penjelasan yang sangat menarik: rupa yang muncul dalam mimpi seseorang bersifat subjektif, bergantung pada kadar iman dan keyakinan si pemimpi.

  • Jika iman seseorang kuat dan benar, ia akan melihat representasi yang sangat indah dan agung.
  • Jika terdapat kekurangan dalam iman, rupa yang muncul akan sesuai dengan kekurangan tersebut.

Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al-Albani menegaskan bahwa apa pun citra yang muncul, baik itu cahaya atau sosok, itu hanyalah “gambaran imajiner” (shurah khayaliyyah) yang Allah ciptakan sebagai pesan atau simbol bagi hamba-Nya, bukan Zat-Nya yang hakiki.

Bahkan Syaikh Ibnu Utsaimin cenderung menyebut mimpi ini sebagai cara Allah memberikan “teguran” agar si hamba semakin teguh dalam agamanya.

3. Mendengar Suara Tanpa Rupa

Kondisi ketiga adalah pengalaman di mana si pemimpi tidak melihat citra visual apa pun, namun ia mendengar suara yang ia yakini dengan sepenuh hati sebagai firman atau kalam Allah. Dalam kitab As-Sunnah, Ibnu Abi Asim meriwayatkan bahwa Allah bisa saja berbicara kepada hamba-Nya yang beriman di dalam mimpi.

Kisah menarik juga dituturkan oleh Imam Al-Ghazali mengenai seorang murid yang mendengar suara di dalam mimpi menegurnya karena berhenti membaca Al-Qur’an. Suara tersebut memberikan pengaruh terhadap si murid tersebut seketika setelah ia terbangun. Dalam hal ini, pendengaran di alam mimpi menjadi saluran komunikasi tanpa melibatkan indra penglihatan.

Catatan Penting: Menjaga Akidah dari “Tasybih”

Meskipun para ulama mengakui adanya fenomena ini, mereka memberikan rambu-rambu yang sangat ketat. Kita dilarang keras meyakini bahwa rupa yang kita lihat di dalam mimpi adalah rupa Allah yang sesungguhnya di alam nyata.

Ibnu Taimiyyah mengingatkan bahwa apa pun yang terlintas dalam khayalan manusia, maka Allah pasti berbeda dari hal tersebut. Namun, di sisi lain, kita tetap harus mengimani hadis-hadis sahih mengenai “Rupa Allah” (Surah) sebagaimana yang tercantum dalam atsar.

Memahami rupa Allah dalam mimpi ibarat melihat cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca berwarna-warni. Cahaya yang sampai ke mata kita mungkin tampak merah, hijau, atau biru sesuai dengan warna kacanya. Warna-warna itu bukanlah “warna asli” matahari, namun cahaya tersebut tetap berasal dari matahari yang sama dan memberi tahu kita bahwa matahari itu nyata dan sedang bersinar terang di luar sana.

Kesimpulan

Melihat Allah dalam mimpi, baik melalui perasaan, representasi rupa yang indah, maupun melalui suara, adalah bentuk karunia atau pesan bagi seorang mukmin. Pengalaman ini menjadi pengingat akan kebesaran-Nya dan motivasi untuk terus memperbaiki kualitas iman.

Bagi mereka yang mengalaminya, hal tersebut harus disyukuri namun tetap dikembalikan kepada prinsip dasar akidah: bahwa Allah Maha Suci dari segala bentuk dan rupa makhluk.

Sebagaimana kata Ibnu Qutaibah, kita mengimani semua berita tentang Allah, baik yang ada di Al-Qur’an maupun Sunnah, tanpa memberikan batasan atau cara tertentu.

***

Referensi: Majalah Dirasah Al-Aqdiyah, Vol. 36, Abu Bakar bin Salim

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button