Menemukan Jawaban “Di Mana Allah?” Melalui Hadis Jariyah

Dalam perjalanan spiritual seorang muslim, sering kali muncul pertanyaan mendasar yang menguji kedalaman pemahaman akidah kita: “Di mana Allah?”.
Di lingkungan masyarakat kita, pertanyaan ini terkadang dianggap tabu atau dijawab dengan penjelasan yang rumit. Namun, jika kita kembali kepada warisan lisan Rasulullah ﷺ, kita akan menemukan sebuah peristiwa yang dikenal dalam literatur Islam sebagai Hadis Jariyah (Hadis tentang seorang budak wanita).
Hadis ini menceritakan saat Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami membawa seorang budak wanita kepada Nabi ﷺ.
Rasulullah ﷺ kemudian mengajukan pertanyaan singkat namun menentukan: “Di mana Allah?”. Budak tersebut menjawab: “Di langit”. Nabi ﷺ bertanya lagi: “Siapa aku?”. Ia menjawab: “Engkau adalah utusan Allah”.
Mendengar itu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang mukminah (wanita yang beriman)”.
Hadis ini menjadi fondasi bagi akidah muslim bahwa Allah berada di atas, sesuai dengan kemuliaan-Nya.
Analisis Sanad dan Pelajaran Hadis Jariyah
Secara ilmiah, Hadis Jariyah memiliki kedudukan yang sangat kuat. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya. Meskipun Imam al-Bukhari tidak mencantumkannya dalam al-Jami’ as-Shahih, beliau tetap mengakuinya dan mencantumkannya dalam kitabnya yang lain, Khalq Af’al al-Ibad, dengan sanad yang memenuhi syarat beliau.
Para pakar hadis lintas zaman, mulai dari Imam as-Syafi’i, Imam Ahmad, hingga ulama belakangan seperti Imam an-Nawawi, al-Baihaqi, Ibnu Hajar, dan ad-Dzahabi, semuanya sepakat mensahihkan hadis ini.
Ibnu al-Salah menegaskan bahwa hadis yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim tanpa Bukhari tetap termasuk dalam kategori yang dipastikan keshahihannya karena umat telah menerimanya dengan lapang (talaqqi bi al-qabul).
Banyak ulama besar menjadikannya hujah dalam masalah akidah maupun fikih. Imam as-Syafi’i menggunakannya sebagai dalil bahwa kaffarah hanya sah dengan memerdekakan budak yang mukmin. Sementara itu, imam-imam lain seperti Abu Hanifah, Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam, hingga Imam ad-Dzahabi menggunakannya untuk menetapkan sifat Uluw (ketinggian) bagi Allah.
Pelajaran penting dari hadis ini, sebagaimana diungkapkan Abu Said ad-Darimi, adalah bahwa pengetahuan tentang Allah di atas langit merupakan tanda keimanan. Beliau menyatakan, “Rasulullah ﷺ menjadikan tanda keimanannya adalah pengetahuannya bahwa Allah di langit”.
Senada dengan itu, Imam ad-Dzahabi berkomentar bahwa secara fitrah, setiap orang yang ditanya “Di mana Allah?” pasti akan menjawab “Di langit”.
Pelajaran penting dari hadis ini adalah:
- Pertanyaan: Dibolehkan, bahkan dicontohkan oleh Nabi ﷺ bertanya “Di mana Allah?” untuk menguji keimanan seseorang.
- Fitrah Manusia: Jawaban budak wanita tersebut lahir dari fitrah yang murni, yaitu keyakinan bahwa Sang Pencipta berada di tempat tertinggi.
- Indikator Iman: Pengakuan bahwa Allah berada di langit (di atas Arsy) diakui oleh Nabi ﷺ sebagai tanda keimanan.
Menelaah Syubhat: Keraguan terhadap Hadis Jariyah
Di sebagian kalangan ulama muta’akhiriin (belakangan), muncul beberapa syubhat atau kerancuan dalam menerima hadis ini.
Tokoh-tokoh seperti Al-Kautsari, Al-Ghumari, dan Hasan as-Saqqaf menjadi penggerak utama keraguan ini.
Syubhat pertama mereka adalah klaim bahwa hadis ini adalah hadis ahad (diriwayatkan jalur tunggal) sehingga tidak bisa dijadikan landasan akidah.
Kedua, mereka menuduh adanya idhtirab (kegoncangan/ketidakkonsistenan) pada matan hadis karena adanya perbedaan redaksi di jalur periwayatan lain.
Ketiga, Al-Kautsari melemparkan klaim aneh bahwa budak tersebut sebenarnya bisu, sehingga Nabi hanya menggunakan isyarat tangan, dan redaksi “Di mana Allah” hanyalah karangan perawi sesuai pemahamannya.
Keempat, secara makna, mereka menakwil pertanyaan “Di mana” (Ayna) bukan menanyakan tempat, melainkan menanyakan makanah (kedudukan/derajat) Allah.
Mereka mengkhawatirkan bahwa menetapkan arah “di atas” bagi Allah akan menjerumuskan pada tahayyuz (pengambilan ruang/tempat) yang menyerupakan Allah dengan makhluk.
Bantahan Ilmiah terhadap Syubhat
Menanggapi syubhat tersebut, para ulama Ahlus Sunnah memberikan jawaban sebagai berikut:
- Hujjah Hadis Ahad dalam Akidah: Ahlus Sunnah bersepakat bahwa hadis yang shahih tetap menjadi hujah dalam akidah. Membedakan antara hukum dan akidah dalam hal penerimaan hadis adalah metode bidah yang tidak dikenal oleh para Salaf.
- Menampis Tuduhan Idhtirab: Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa idhtirab hanya terjadi jika ada perbedaan riwayat yang sama-sama kuat tanpa ada yang bisa diunggulkan. Dalam kasus ini, riwayat Imam Muslim adalah yang paling unggul (rajih), sementara riwayat lain yang menyelisihinya adalah lemah atau syadz (ganjil). Ibnu Hajar sendiri secara tegas menyatakan, “Hadis ini sahih diriwayatkan oleh Muslim“.
- Menolak Takwil “Makanah”: Mengartikan “Di mana” sebagai “Bagaimana kedudukan-Nya” adalah kesalahan bahasa. Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Allah telah menyifati diri-Nya dengan ketinggian dalam Al-Qur’an lebih dari seribu dalil. Beliau menegaskan bahwa budak wanita tersebut menjawab berdasarkan fitrah aslinya.
- Bantahan Klaim Isyarat Bisu: Klaim bahwa budak tersebut bisu berasal dari riwayat Said bin Zaid yang memiliki kelemahan dalam hafalannya dan menyalahi riwayat Imam Malik serta Yahya bin Abi Katsir yang lebih terpercaya. Riwayat yang paling kuat justru menunjukkan budak tersebut berbicara fasih menjawab “Di langit”.
Ibn Qudamah al-Maqdisi memberikan sindiran bagi mereka yang menolak hadis ini: “Siapa yang lebih bodoh dan sesat jalannya daripada orang yang mengatakan tidak boleh bertanya ‘Di mana Allah?’ setelah Pemilik Syariat (Nabi ﷺ) sendiri bertanya ‘Di mana Allah?'”.
Memahami Allah di atas langit melalui Hadis Jariyah seperti melihat matahari yang berada di ketinggian yang sangat jauh. Kita tahu matahari ada di atas sana, cahayanya meliputi segala tempat, namun matahari itu sendiri tidak bercampur dengan bumi atau masuk ke dalam ruangan-ruangan gelap.
Ketinggiannya tidak mengurangi kebesaran cahayanya, justru ketinggian itu adalah sifat kemuliaan bagi sang penerang dunia.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melapangkan hati kita untuk menerima kebenaran apa adanya, menjauhkan kita dari hal-hal yang menjauhkan dari sunnah, serta mengumpulkan kita di jalan yang lurus sesuai pemahaman para sahabat dan imam-imam pembela sunnah.
Wallahu A’lam bis Shawab.
***
Referensi:
Hadits: Aina Allah? Dirasah Wa Tahlil, Markaz Salaf.
I’laa Hadits Al-Jariyah, Syaikh Sa’ad.





One Comment