Jejak Sejarah dan Akidah Imam Syafi’i

Di tengah masyarakat kita, khususnya di Indonesia yang mayoritas memegang Madzhab Syafi’i dalam fiqh, sering muncul sebuah persepsi yang mengidentikkan madzhab ini dengan akidah Asy’ariyah. Muncul pertanyaan menarik:
“Apakah akidah Imam Syafi’i itu Asy’ariyah? Padahal beliau lahir jauh sebelum Imam Al-Asy’ari.”
Akar Sejarah Asy’ariyah dan Perjalanannya
Paham Asy’ariyah dinisbatkan kepada Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (wafat 324 H). Secara kronologi sejarah, beliau hidup sekitar seabad setelah wafatnya Imam Syafi’i (wafat 204 H). Sejarah mencatat bahwa Imam Al-Asy’ari melewati beberapa fase pemikiran; beliau menghabiskan sekitar 40 tahun sebagai penganut Mu’tazilah sebelum akhirnya bertaubat dan mengumumkan pemikiran barunya di hadapan publik.
Pasca keluar dari Mu’tazilah, beliau meniti jalan Ibnu Kullab (wafat 241 H). Sebenarnya, paham Asy’ariyah adalah bentuk pengembangan dari akidah Kullabiyyah yang mencoba menjembatani antara metode ahli hadis dengan metode ahli kalam. Namun, perlu dicatat bahwa apa yang dipegang oleh Imam Al-Asy’ari di awal perkembangannya tidak sepenuhnya sama dengan apa yang kemudian berkembang menjadi madzhab Asy’ariyah di tangan para pengikutnya di masa setelahnya.
Mengapa Asy’ariyah Identik dengan Madzhab Syafi’i?
Pada awalnya, Madzhab Syafi’i murni berdiri di atas prinsip akidah imamnya yang mengikuti jejak para Sahabat. Murid-murid awal Imam Syafi’i seperti Al-Buwayti, Al-Muzani, dan Ar-Rabi’ bin Sulaiman semuanya berada di atas akidah ini. Namun, mulai akhir abad ke-3 Hijriah, pengaruh pemikiran teologi mulai masuk ke dalam lingkungan para pengikut madzhab ini.
Proses “perkawinan” antara fiqh Syafi’i dan akidah Asy’ariyah ini semakin kuat melalui beberapa faktor:
- Dukungan Otoritas Politik: Tokoh-tokoh seperti Nizam al-Mulk (seorang menteri di era Dinasti Seljuk) memberikan dukungan besar dengan membangun Madrasah Nizamiyyah yang menjadikan akidah Asy’ariyah sebagai kurikulum resmi dan madzhab Syafii sebagai kurikulum fiqih.
- Kepemimpinan Ulama: Banyak ulama besar Syafi’iyyah di masa pertengahan, seperti Imam Al-Haramain Al-Juwayni dan Al-Ghazali, yang juga merupakan tokoh sentral Asy’ariyah, sehingga kedua madzhab ini seolah menjadi satu paket.
- Kebijakan Dinasti: Di Mesir, Shalahuddin al-Ayyubi mendorong masyarakat untuk mempelajari akidah Asy’ariyah dan bahkan memerintahkan pembacaan matan akidah tersebut di menara-menara masjid.
Kombinasi antara dukungan politik dan institusi pendidikan inilah yang membuat banyak orang awam hari ini menyimpulkan bahwa “Syafi’i dalam fiqh berarti Asy’ari dalam akidah,” meskipun secara historis keduanya memiliki asal-usul yang berbeda.
Cara Menemukan Akidah Imam Syafi’i yang Sebenarnya
Lantas, jika beliau bukan seorang Asy’ari, bagaimana kita bisa mengetahui akidah beliau yang asli?
Ada metode ilmiah yang bisa kita gunakan:
Pertama, Merujuk Langsung pada Karya Tulis Beliau. Pikiran seorang ulama paling valid ditemukan dalam tulisannya sendiri. Karya besar seperti Al-Umm dan Ar-Risalah tidak hanya berisi hukum fiqh, tetapi juga memuat prinsip-prinsip dasar akidah yang beliau yakini. Dalam kitab-kitab ini, kita akan menemukan bahwa Imam Syafi’i sangat menekankan pengagungan wahyu di atas logika akal.
Kedua, Melalui Riwayat Bersanad (Isnad). Kita bisa melihat kutipan pernyataan beliau dalam kitab-kitab akidah yang ditulis dengan rantai penukilan yang jelas oleh murid-muridnya, seperti dalam karya Al-Lalika’i, Al-Baihaqi, atau Abu Nu’aim. Dengan metode isnad (rantai narasi), kita bisa memverifikasi apakah sebuah pernyataan benar-benar keluar dari lisan Imam Syafi’i atau hanya klaim belakangan.
Ketiga, Mengamati Prinsip Murid-Murid Terdekat. Murid-murid yang mendampingi beliau seperti Al-Muzani menulis kitab Syarhus Sunnah yang menjelaskan keyakinan mereka, yang secara logika tentu mereka ambil dari guru mereka, Imam Syafi’i.
Karakteristik Akidah Imam Syafi’i
Secara garis besar, Imam Syafi’i memiliki prinsip tunduk terhadap wahyu (Taslim). Beliau pernah berkata: “Al-Qur’an berada pada maknanya yang lahir (zahir) kecuali ada dalil lain yang memalingkannya”. Beliau juga menekankan bahwa akidah Islam harus bersumber murni dari Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para Sahabat.
Bagi Imam Syafi’i, kebenaran adalah apa yang dikatakan Allah dan Rasul-Nya. Beliau bahkan meninggalkan wasiat terkenal: “Jika kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah, maka ambillah sunnah itu dan tinggalkan perkataanku”.
Penutup
Sebagai muslim yang bijak, kita perlu memahami bahwa identitas madzhab fiqh tidak secara otomatis menentukan akidah seseorang. Imam Syafi’i adalah imam yang hidup di era Salaf yang murni, sementara Asy’ariyah adalah madzhab akidah yang muncul kemudian sebagai respons terhadap tantangan pemikiran di zamannya.
Memahami sejarah membantu kita untuk tetap objektif dan tidak mudah terbawa oleh narasi-narasi tanpa memeriksa isinya. Bayangkan sebuah rumah tua yang kokoh (Akidah Imam Syafi’i). Seiring berjalannya waktu, para penghuni berikutnya menambahkan dekorasi dan cat baru (Paham Asy’ariyah) agar sesuai dengan selera zaman mereka.
Meskipun rumah tersebut sekarang tampak sangat berbeda karena dekorasinya, struktur bangunan aslinya tetaplah seperti saat pertama kali dibangun. Untuk mengetahui bentuk asli rumah tersebut, kita tidak bisa hanya melihat dekorasi luarnya sekarang, melainkan harus melihat pada denah dan foto asli dari sang arsitek pertama.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mencintai para ulama, namun lebih mencintai dalil yang menjadi warisan suci agama ini.
Wallahu A’lam bis Shawab.
***
Referensi:
At-Tarikh Al-‘Aqdi Fi Al Madzhab Asy-Syafii, Al-Bashirah
Aqidatul Imam Asy-Syafii Min Nushusi Kalamihi Wa Idhah Ashabihi, Abdullah Al-Anqari
Ar-Rasail wa Al-Masail Al-‘Aqdiyah Al-Mansubah Lil Imam Asy-Syafii, Muhanna Salim
َWaqafat Ma’a Intisyari Al-Madzhab Al-Asyari Wa Asbabuhu, Markaz Salaf




