Jejak Akidah Imam Syafi’i

Nama: Dasuki
Asal: Indramayu
Pertanyaan:
- Di mana Allah?
- Apakah akidah Imam Syafi’i Asy’ariyah? Sedangkan Imam Syafi’i lahir lebih dulu dibanding pencetus akidah Asy’ariyah?
- Benarkah tiga golongan besar Ahlus Sunnah adalah: Al-Asy’ariyah, Al-Atsariyah, dan Al-Maturidiyah?
Jawaban:
Bismillah wasshalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Terima kasih atas pertanyaan dari Saudara Dasuki di Indramayu. Masalah ini merupakan fondasi penting bagi setiap muslim untuk memahami akidahnya. Berikut adalah penjelasannya:
1. Di mana Allah?
Berdasarkan teks wahyu dan fitrah manusia, Allah berada di atas langit, bersemayam di atas Arsy-Nya. Hal ini ditegaskan dalam Hadis Jariyah (budak wanita) yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Ketika Rasulullah ﷺ bertanya, “Di mana Allah?”, budak tersebut menjawab, “Di langit”, dan Nabi ﷺ membenarkannya serta bersaksi bahwa wanita itu adalah seorang mukminah. Akidah ini selaras dengan fitrah manusia yang secara naluriah menengadahkan tangan ke atas saat berdoa.
Adapun penjelasan mengenai syubhat-syubhat yang berkaitan dengan hadits ini dan bantahannya, saudara dapat membaca selengkapnya disini.
2. Akidah Imam Syafi’i dan Asy’ariyah
Secara sejarah, Imam Syafi’i (wafat 204 H) hidup jauh sebelum Imam Al-Asy’ari (wafat 324 H) lahir. Berdasarkan perkataan beliau, akidah Imam Syafi’i adalah Sunni yang mengikuti jejak para Sahabat.
Beliau sangat menekankan kepasrahan pada wahyu dan melarang penggunaan ilmu kalam dalam akidah.
Hubungan antara Madzhab Syafi’i dan Asy’ariyah baru menguat pada abad-abad berikutnya karena faktor politik dan pendidikan, seperti dukungan Dinasti Seljuk dan sekolah-sekolah Nizamiyyah.
Oleh karena itu, menyebut Imam Syafi’i berakidah Asy’ariyah secara teknis adalah keliru; bahkan ulama Syafi’iyyah seperti Abu Hasan al-Karaji menyatakan bahwa mengaku “Syafi’i dalam fikih tapi Asy’ari dalam akidah” adalah sebuah pertentangan (kontradiksi). Selengkapnya saudara bisa baca disini.
3. Tiga Golongan Ahlus Sunnah
Pernyataan bahwa Ahlus Sunnah terdiri dari tiga golongan (Atsariyah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah) memang sering dikutip, salah satunya oleh Imam As-Safarini. Namun, Imam As-Safarini sendiri memberikan klarifikasi penting bahwa hadis Nabi ﷺ menyebutkan hanya satu golongan yang selamat (al-firqah an-najiyah).
Beliau menegaskan bahwa predikat tersebut secara hakiki hanya layak disematkan kepada Ahlul Atsar (Ahlul Hadits) karena mereka konsisten mengikuti dalil dan tidak mendahulukan logika akal di atas wahyu. Sebagaimana penjelasan para ulama, kebenaran tidak diukur dari banyaknya jumlah pengikut, melainkan dari kesesuaiannya terhadap apa yang diajarkan Nabi ﷺ dan para Sahabatnya. Saudara bisa membaca pernyataan As-Safarini dan penjelasannya disini.
Demikian jawaban singkat kami, semoga Allah senantiasa memberikan kita hidayah untuk tetap teguh di atas sunnah yang murni sesuai pemahaman para salafush shalih.
Wallahu A’lam bis Shawab.





I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.
Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good.