Post-Holiday Syndrome Pasca Idul Fitri: Kenapa Semangat Bisa Tiba-Tiba Hilang?

Lebaran sudah usai. Baju baru sudah masuk lemari, ketupat sudah habis, dan keluarga besar sudah kembali ke kota masing-masing. Kini saatnya kembali ke rutinitas: kerja, kuliah, dan aktivitas sehari-hari yang sempat kita tinggalkan selama beberapa hari.
Tapi ada yang aneh. Badan terasa berat untuk memulai. Semangat yang tadi menyala-nyala selama Ramadan kini terasa redup.
Bahkan untuk shalat pun rasanya ada yang berbeda, tidak sekhusyu’ dan seringan dulu.
Kita bertanya-tanya: kenapa ya, kok tiba-tiba jadi begini?
Mengenal Post-Holiday Syndrome
Post-holiday syndrome, atau sering disebut post-holiday blues, adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa sedih, kosong, dan kehilangan motivasi setelah masa liburan berakhir.
Psikolog klinis Toetik Septriasih menjelaskan bahwa ini adalah kondisi yang normal, bukan tanda bahwa ada yang salah dengan diri kita. Dan yang lebih melegakan, semua orang pada dasarnya bisa pulih dari kondisi ini.
Lalu mengapa ini bisa terjadi?
Dr. Paul Nestadt dari Johns Hopkins University memberikan penjelasan yang cukup sederhana: selama liburan, otak kita dibanjiri hormon dopamin dan serotonin, dua hormon yang membuat kita merasa bahagia dan bersemangat karena kita banyak berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai. Nah, ketika liburan berakhir, hormon-hormon itu ikut turun. Dan perasaan hampa itulah yang kita rasakan setelahnya.
Psikiater dr. Muh. Gatra Pratama, Sp.KJ., menambahkan bahwa kondisi ini sebenarnya sudah bisa muncul bahkan sebelum Lebaran selesai akibat tekanan finansial belanja Lebaran, kelelahan fisik yang menumpuk, atau justru terlalu banyak berinteraksi sosial hingga kelelahan.
Seperti Apa Bentuknya?
Post-holiday syndrome bisa muncul dalam banyak bentuk. Kenali mana yang paling terasa pada diri kita:
Badan dan pikiran terasa lelah.
Mudik jauh, tidur tidak teratur, makan tidak terjadwal, agenda padat selama beberapa hari, semuanya menumpuk dan berujung pada kelelahan yang membuat suasana hati ikut memburuk.
Tiba-tiba malas dan tidak bersemangat.
Psikolog Dian Wisnuwardhani dari Universitas Indonesia menyebutkan gejala ini sebagai emotional gap, jurang emosional antara suasana liburan yang hangat dan penuh warna, dengan rutinitas yang terasa datar setelahnya. Inilah yang membuat kita jadi sering melamun, sulit fokus, dan menunda-nunda pekerjaan.
Merasa sedih tanpa alasan yang jelas.
Ini yang paling membingungkan. Lebaran kan momen bahagia, tapi kenapa setelahnya malah sedih?
Jawabannya ada di penjelasan Dr. Nestadt tadi: bukan karena kita tidak bersyukur, tapi karena otak memang sedang dalam fase penyesuaian.
Cemas soal keuangan.
Dr. Gatra menyebut tekanan finansial pasca-Lebaran sebagai salah satu yang nyata. THR sudah habis, pengeluaran membengkak, dan tagihan mulai berdatangan, kombinasi ini bisa memperparah kondisi post-holiday blues secara signifikan.
Ibadah terasa berat dan hambar.
Nah, ini yang paling relevan bagi seorang Muslim. Jika selama Ramadan shalat terasa ringan dan tilawah terasa menyenangkan, tapi sekarang semuanya terasa seperti beban, itu bukan berarti iman kita rusak. Itu adalah bagian dari futur, kondisi yang bahkan pernah dirasakan oleh para sahabat Nabi ﷺ sekalipun.
Hanzhalah Al-Usaidi radhiyallahu ‘anhu pernah datang kepada Abu Bakr dengan wajah gelisah dan berkata, “Hanzhalah telah munafik!”
Ketika ditanya mengapa, ia menjawab bahwa saat bersama Rasulullah ﷺ hatinya terasa hidup dan dekat dengan Allah, tapi begitu pulang ke rumah dan kembali ke urusan dunia, semuanya terasa berbeda.
Rasulullah ﷺ pun kemudian menenangkan mereka dengan sabdanya:
“وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ… وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ، سَاعَةً وَسَاعَةً”
“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian terus-menerus dalam kondisi seperti saat bersama saya, niscaya para malaikat akan berjabat tangan dengan kalian… Tapi wahai Hanzhalah, ada waktunya (untuk ibadah) dan ada waktunya (untuk urusan dunia).” (HR. Muslim)
Naik-turunnya semangat adalah manusiawi. Yang penting adalah kita tidak membiarkannya jatuh terlalu dalam.
Kenapa Lebaran Justru Jadi Titik Rawan?
Ini mungkin terdengar kontradiksi: bukankah Lebaran seharusnya jadi momen paling membahagiakan?
Justru di situlah letak masalahnya.
Ramadan membangun kita menjadi versi terbaik selama sebulan penuh: disiplin, khusyu’, dan dekat dengan Allah. Lalu tiba-tiba semuanya berakhir sekaligus. Shalat tarawih tidak ada lagi.
Suasana sahur dan buka puasa bersama sudah lewat. Tilawah yang mengalir setiap malam kini terasa tidak ada dorongannya.
Penelitian Nanang Erma Gunawan tentang tradisi maaf-memaafkan saat Idul Fitri mengungkap satu hal yang menarik: meskipun kita tampak saling memaafkan dan berpelukan hangat di hari raya, tidak semua orang benar-benar bisa melepaskan beban emosionalnya.
Luka lama yang hanya “ditutupi” oleh euforia Lebaran bisa kembali terasa setelah suasana mereda, dan ini memperparah kondisi post-holiday blues yang sudah ada.
Di sinilah psikologi dan Islam bertemu. Para ulama menyebut kondisi jatuhnya semangat pasca puncak ketaatan sebagai futur.
Dr. Faishal Al-Hulaibī dalam kitabnya menggambarkannya sebagai penyakit yang justru menyerang orang-orang yang pernah kuat:
“فالفتورُ إذاً مرضٌ يُصيبُ الأقوياء، ويَترصَّدُ لكلِّ من يتطلَّع إلى الكمالِ في دينه”
“Futur adalah penyakit yang menimpa orang-orang yang kuat, dan mengintai setiap orang yang mendambakan kesempurnaan dalam agamanya.”
Jadi kalau kita merasakan futur pasca-Ramadan, itu justru tanda bahwa kita pernah berada di tempat yang baik.
Lalu, Bagaimana Mengatasinya?
Kabar baiknya: kondisi ini bisa diatasi. Berikut langkah-langkah yang didukung baik oleh psikologi maupun ajaran Islam:
1. Jangan terburu-buru kembali ke ritme penuh.
Dr. Dian Wisnuwardhani menyarankan agar kita kembali ke rutinitas secara bertahap, bukan sekaligus. Mulai dari yang kecil: tidur lebih awal sedikit demi sedikit, buka laptop untuk hal ringan dulu, dan jangan langsung membebankan diri dengan semua kewajiban di hari pertama.
Prinsip ini persis dengan apa yang diajarkan Nabi ﷺ dalam urusan ibadah:
“خُذُوا مِنَ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ”
“Ambillah amal yang kalian mampu. Karena sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin dikerjakan meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dua rakaat shalat Dhuha yang konsisten setiap hari jauh lebih bernilai daripada semangat besar yang langsung padam dalam seminggu.
2. Rawat koneksi sosial, tidak harus menunggu Lebaran lagi.
Salah satu pemicu terbesar post-holiday blues adalah perasaan kehilangan kehangatan yang hanya datang setahun sekali. Solusinya sederhana: jangan biarkan hubungan itu mati setelah hari raya.
Hubungi keluarga, jadwalkan pertemuan dengan sahabat, atau bergabung kembali ke komunitas pengajian yang selama ini mungkin sempat kita tinggalkan.
Penelitian Bissalam dkk. (2025) tentang mahasiswa Muslim menemukan bahwa bergabung dalam komunitas keislaman adalah salah satu cara paling efektif untuk menjaga konsistensi ibadah dan kesehatan mental sekaligus.
Al-Hasan Al-Bashri sudah berkata jauh sebelum penelitian itu ada:
“إخوانُنا أغلى عندنا من أهلينا، فأهلونا يُذكِّروننا الدنيا وإخوانُنا يُذكِّروننا الآخرة”
“Saudara-saudara kami lebih berharga dari keluarga kami. Keluarga mengingatkan kami kepada dunia, sedangkan saudara-saudara kami mengingatkan kami kepada akhirat.”
3. Lakukan muhasabah, tapi yang ringan, bukan yang menyiksa diri.
Muhasabah bukan berarti duduk berjam-jam menyesali semua kesalahan. Cukup luangkan beberapa menit di malam hari untuk bertanya pada diri sendiri:
hari ini aku sudah berbuat apa saja? Ibadah mana yang terlewat? Apa yang bisa diperbaiki besok?
Allah Ta’ala sendiri mengajarkan kebiasaan ini:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)
4. Jadikan ibadah sebagai obat, bukan tambahan beban.
Penelitian psikologi ibadah yang dilakukan Putri, Shofiah & Rajab (2024) menemukan bahwa ibadah yang dilakukan dengan penuh kesadaran, bukan sekadar menggugurkan kewajiban, memiliki efek nyata pada sistem saraf, keseimbangan emosi, dan ketenangan jiwa. Singkatnya: ibadah itu secara psikologis memang menyehatkan.
Jadi ketika kita malas beribadah, solusinya bukan menunggu sampai semangat datang lagi.
Justru mulailah beribadah, meski terasa berat, karena di situlah obatnya berada.
Allah Ta’ala berfirman:
أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
5. Jaga tubuh, karena fisik dan mental saling memengaruhi.
Dr. Gatra mengingatkan pentingnya tidur cukup, makan teratur, dan tidak memaksakan diri memenuhi semua ekspektasi sekaligus. Tubuh yang kelelahan akan membuat pikiran lebih mudah jatuh ke dalam kekosongan. Sesederhana tidur tepat waktu pun bisa menjadi langkah awal yang sangat berarti.
Penutup
Post-holiday syndrome pasca Idul Fitri adalah sesuatu yang nyata, secara psikologis maupun spiritual. Ia bukan tanda kelemahan, dan bukan alasan untuk menyerah. Ia hanyalah bagian dari ritme manusiawi yang perlu kita kelola dengan sadar.
Yang terpenting untuk diingat: kondisi ini sementara. Hormon akan kembali seimbang, semangat akan kembali tumbuh, dan ibadah akan kembali terasa ringan, asal kita tidak menyerah dan tidak membiarkan diri terlalu lama terjebak di dalamnya.
Ramadan telah melatih kita selama sebulan. Idul Fitri adalah wisudanya. Tapi kehidupan nyata, dengan segala tantangan menjaga iman dan kesehatan mental di luar bulan Ramadan, itulah ujian sesungguhnya.
Semoga kita termasuk yang lulus.
***
Referensi
Al-Hulaibī, F. S. (2004). Al-Futūr: Maẓāhiruh wa Asbābuh wa ‘Ilājuh. Madar Al-Watan, Riyadh.
Pratama, M. G. (2025). Lebaran dan kesehatan mental: Euforia atau burnout? Opini Kesehatan Jiwa.





usdc to rubles exchange usdc to cash exchanger
продать usdt за наличные usdt trc20 на наличные рубли
Самое полезное для вас: https://remont-kras.ru
обмен крипты без верификации usdt trc20 на рубли
All the Details: https://blockchainreporter.net/how-to-buy-meme-coins-in-2025/
Только что опубликовано: https://remontokonufa.ru
Стрийські новини https://stryi.in.ua актуальні події міста Стрий та регіону. Оперативна інформація про події, суспільне життя, культуру, економіку та важливі зміни. Слідкуйте за новинами, які відбуваються поряд із вами.
Блог про бижутерию https://glamglam.ru и подарки с полезными статьями о модных аксессуарах, украшениях и идеях для подарков. Обзоры трендов, советы по выбору бижутерии, рекомендации по сочетанию украшений и вдохновение для особых случаев.
Подробности по ссылке: https://sozidaya.ru
Только лучшие материалы: https://l-parfum.ru/catalog/tester-byredo/byredo-oliver-peoles/
Узнать больше здесь: https://spainslov.ru/site/word/word/%d0%91%d0%a3%d0%97%d0%98%d0%9d%d0%90
Только лучшее здесь: https://home-parfum.ru/catalog/clive-christian/
Купить iPhone http://kupit-iphone43.ru в Нижнем Новгороде по выгодной цене с гарантией качества. В наличии популярные модели Apple, различные цвета и объемы памяти. Удобная оплата, доставка по городу, возможность покупки в кредит или рассрочку.
букет цена купить большой букет