ARTIKEL ISLAMSejarah

Bintang Sunnah dari Kota Nabi: Imam Malik bin Anas

Cahaya Petunjuk di Tengah Kegelapan

Para ulama adalah pewaris para nabi. Allah ﷻ meninggikan derajat mereka laksana bintang-gemintang yang menjadi penunjuk arah bagi manusia di tengah pekatnya malam.

Ketika syahwat dan syubhat mengepung umat, kehidupan para ulama hadir sebagai pemantik semangat bagi jiwa-jiwa yang merindukan kebenaran.

Dalam tulisan ini, kita akan menyelami perjalanan hidup salah satu tokoh terbesar dalam sejarah Islam. Beliau adalah seorang imam yang kepadanya tersambung sanad kitab hadis pertama yang disusun secara sistematis. Beliau adalah Sang Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas rahimahullah.

Nasab dan Kelahiran Sang Imam

Nama lengkap beliau adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir Al-Himyari Al-Asbahi. Beliau memiliki kunyah Abu Abdullah, sebuah panggilan yang uniknya juga dimiliki oleh dua imam mazhab lainnya, yakni Imam Syafi’i dan Imam Ahmad.

Dunia mengenal beliau dengan dua julukan kehormatan yang masyhur:

  1. Imam Darul Hijrah (Imam Negeri Hijrah/Madinah).

  2. Najmus Sunan (Bintang Sunnah).

Imam Syafi’i pernah memberikan pujian yang sangat tinggi kepada gurunya ini:

“Jika disebut atsar (hadis), maka Malik adalah bintangnya.”

Pujian ini pun diabadikan oleh Al-Hafizh Al-Iraqi dalam bait Alfiyah-nya:

“Dan mereka membenarkan ketidakbutuhan orang yang masyhur akan tazkiyah (rekomendasi), seperti Malik Sang Bintang Sunnah…”

Menurut pendapat yang paling masyhur, Imam Malik dilahirkan pada tahun 93 Hijriah dan wafat pada tahun 179 Hijriah. Allah mengaruniakan beliau umur yang panjang, sekitar 86 tahun, menjadikannya ulama dengan usia terpanjang di antara empat imam mazhab.

Tumbuh dalam Rumah Ilmu

Imam Malik tumbuh dalam keluarga yang sederhana secara ekonomi, namun sangat kaya akan warisan ilmu. Ayahnya bekerja sebagai pembuat anak panah (nabl), sebuah pekerjaan tangan yang bersahaja. Meski pendapatan keluarga terbatas, dampak kesalehan begitu kental terasa di rumah mereka.

Kakek beliau, Malik bin Abi Amir, adalah seorang Tabi’in senior yang meriwayatkan hadis dari para sahabat besar seperti Umar bin Khattab, Thalhah, Aisyah, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum. Keilmuan sang kakek begitu diakui hingga Khalifah Umar bin Abdul Aziz kerap meminta nasihat darinya.

“Pelajarilah Adab Sebelum Ilmunya”

Di balik kebesaran seorang ulama, seringkali terdapat sosok ibu yang luar biasa. Ibunda Imam Malik, Al-Ghaliyah binti Syarik, adalah sosok yang menanamkan kecintaan terhadap ilmu sejak dini.

Imam Malik mengenang momen bersejarah yang membentuk karakternya:

“Suatu hari ibuku memanggilku dan berkata, ‘Kemarilah, pakailah pakaian ilmu.’ Beliau memakaikanku pakaian yang ringkas, memakaikan peci, dan melilitkan serban di atasnya. Lalu beliau berpesan, ‘Pergilah ke halakah Rabi’ah bin Abi Abdirrahman. Pelajarilah adabnya sebelum engkau mengambil ilmunya.’

Pesan sang ibu inilah yang menjadi pondasi karakter Imam Malik: mendahulukan adab sebelum ilmu.

Tak hanya ibu, sang ayah juga memiliki cara unik dalam memotivasi. Suatu ketika, Malik kecil kalah menjawab pertanyaan ayahnya dibandingkan saudaranya.

Sang ayah menegur dengan halus namun menohok, “Apakah burung-burung dara telah melalaikanmu dari menuntut ilmu?”

Teguran ini begitu membekas hingga Malik bertekad memutus segala hal yang melalaikan dan fokus berguru kepada Ibnu Hurmuz selama tujuh tahun penuh tanpa mencampurnya dengan guru lain.

Guru-Guru Beliau dan Pembentukan Karakter

Imam Malik menimba ilmu dari para raksasa di zamannya.

  • Ibnu Hurmuz: Dari beliau, Imam Malik belajar ketawaduan dan kehati-hatian dalam berfatwa. Ibnu Hurmuz mengajarkan bahwa tameng seorang alim adalah ucapan “La Adri” (Aku tidak tahu). Pelajaran ini begitu meresap hingga kelak ketika Imam Malik ditanya 48 masalah, pada 32 masalah di antaranya beliau menjawab, “Aku tidak tahu.”

  • Rabi’ah Ar-Ra’yi: Pakar fikih Madinah yang sangat dikagumi Imam Malik.

  • Ibnu Syihab Az-Zuhri: Ulama besar hadis. Ada kisah menarik tentang ketekunan Malik muda. Di hari raya Id, saat orang lain beristirahat, Malik justru mendatangi rumah Az-Zuhri untuk meminta hadis. Kegigihan ini membuat Az-Zuhri memujinya, “Engkau adalah salah satu wadah ilmu.”

Berbeda dengan ulama lain yang lazim melakukan rihlah (perjalanan jauh) menuntut ilmu, Imam Malik tidak meninggalkan Madinah.

Mengapa?

Karena saat itu Madinah adalah pusat berkumpulnya ulama. Justru, dunialah yang datang kepada beliau.

Keagungan Majelis Sang Imam

Majelis ilmu Imam Malik bukanlah majelis sembarangan. Beliau sangat mengagungkan hadis Nabi ﷺ. Jika hendak menyampaikan hadis, beliau akan melakukan persiapan khusus:

  • Mandi.

  • Memakai wewangian.

  • Mengenakan pakaian terbaik dan serban.

Semua itu dilakukan demi menghormati sabda Rasulullah ﷺ. Suasana majelis beliau digambarkan begitu hening dan penuh wibawa. Para murid duduk tertunduk khusyuk, seolah-olah ada burung yang bertengger di kepala mereka.

Seorang penyair menggambarkan kewibawaan beliau:

“Dia ditaati, padahal tak punya kekuasaan

Rasa segan padanya membuat penanya tak berani membantah

Para penanya menundukkan dagu karena hormat

Itulah wibawa kesultanan takwa, bukan wibawa jabatan.”

Warisan Abadi: Al-Muwatta

Di antara ribuan muridnya, termasuk Imam Syafi’i yang sangat menghormatinya, warisan terbesar Imam Malik adalah kitab Al-Muwatta. Ini adalah kitab pertama yang disusun dengan sistematis, mengumpulkan hadis-hadis Nabi yang bersambung sanadnya.

Imam Syafi’i berkata:

“Tidak ada kitab di bawah kolong langit ini yang lebih sahih setelah Kitabullah, selain kitab Malik (Al-Muwatta).”

Imam Malik wafat meninggalkan ilmu yang melimpah dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu.

Setiap kali nama beliau disebut, doa rahmat senantiasa mengiringinya. Semoga Allah merahmati Imam Darul Hijrah dan menempatkannya di surga-Nya yang luas.

Wallahu a’lam bish-shawab.

***

Referensi: Masyahirul Ulama ‘Abral ‘Ushur, Syaikh Labib Najib.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button