Bersuci

HAID TIDAK TERATUR, LALU ISTIHADHOH

Berkata Ibnu Qōsim Al-‘Abbādī (w.994 H);

 الذي في العباب وغيره أنه حيث لم يتكرر الدور ترد للنوبة الأخيرة ولا احتياط عليها مطلقا

“Yg disebutkan dalam kitab Al-Ubāb dan lainnya, bahwa ketika daur tidak terulang, maka mutlak dikembalikan kepada ‘ādah (kebiasaan) terakhir, dan tidak ada ihtiyāth (tindakan kehati-hatian) apapun.”

[ Al-Ibānah wal Ifādhoh. Abdurrahman As-Saqqāf. Hal,78 ]

Dalam mu’tamad madzhab, jika seorang mengalami masa haid dan suci yg tidak teratur, lalu setelah itu datang istihādhoh. Maka, dia ikuti masa haid-suci (daur) terakhir. Lalu disisa hari sampai daur terlama, dia melakukan ihtiyāth. Berhukum seperti suci dalam masalah ibadah, berhukum seperti haid dalam masalah hubungan badan dan semacamnya. Lalu setelah itu dia mandi. Dan berhukum seperti wanita suci.

Namun, dengan apa yg dikemukakan oleh Ibnu Qōsim yg menukil dari gurunya, Ibnu Hajar di atas. Memberikan kemudahan. Tidak perlu ada ihtiyāth. Cukup ikuti daur terakhir, dan bersuci. Wallahu ta’ala a’lam.

Danang Santoso

Pengasuh Fiqhgram

Related Articles

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button