Wajah Ideologi Tan Malaka: Antara Narasi Perjuangan dan Gugurnya Fondasi Akidah

Siapa yang tidak kenal Tan Malaka? Sosok yang dijuluki sebagai “Bapak Republik” ini sering kali dipuja karena pemikirannya yang tajam dan keberaniannya melawan penjajah. Namun, di balik daya tarik tulisannya yang menggugah, terdapat sisi gelap ideologis yang jarang dibedah secara jujur, terutama dari sudut pandang akidah Islam.
Sebagai pembaca yang cerdas, kita tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarah tanpa mengkritisi isi pemikiran yang sebenarnya ia sebarkan melalui karya-karyanya.
Marxisme-Komunisme: Akar Ideologi yang Mengikat
Hal pertama yang harus kita pahami adalah bahwa ideologi politik Tan Malaka adalah Marxisme-Komunisme. Dalam kacamata penelitian ilmiah, tulisan-tulisannya tidak bisa dibaca secara bebas atau netral. Menggunakan metode hermeneutika Marxis, kita menemukan bahwa Tan Malaka memposisikan dirinya sebagai “organ partai,” di mana setiap karyanya berfungsi untuk membangun kesadaran kelas dan menyebarkan agenda komunisme.
Ustaz Ferry Hidayat, seorang peneliti yang mengkaji karyanya, menegaskan bahwa Tan Malaka dipengaruhi oleh ideologi politik dan relasi produksinya. Oleh karena itu, semua istilah agama yang ia gunakan dalam bukunya seperti Madilog atau Gerpolek sebenarnya merupakan alat untuk kepentingan politik kelompoknya.
Menelusuri Jejak “Nifaq” (Kemunafikan) Politik
Salah satu bukti paling nyata dari apa yang disebut sebagai kemunafikan atau nifaq Tan Malaka nampak dalam pidatonya pada Kongres Komunis Internasional ke-4 di Moskow tahun 1922. Di hadapan para tokoh komunis dunia, ia secara terbuka menunjukkan strategi bermuka duanya. Ia menyatakan:
“Ketika saya berdiri di hadapan Tuhan, saya adalah seorang Muslim. Tapi ketika saya berdiri di hadapan manusia, saya bukan seorang Muslim.”.
Pernyataan ini bukan sekadar kata-kata puitis, melainkan pengakuan bahwa ia menggunakan Islam sebagai “topeng” untuk menarik simpati massa di Hindia Belanda, sementara di hadapan sesama komunis, ia menegaskan kesetiaannya pada ateisme. Ia bahkan dengan bangga menceritakan bagaimana ia “mengalahkan” para pemimpin Sarekat Islam dengan Al-Qur’an di tangan agar mereka mau bekerja sama dengan agenda komunis.
Lebih jauh lagi, ia mengejek Tuhan dengan menyebut para pekerja kereta api sebagai “komite eksekutif” Tuhan di dunia, yang disambut dengan gelak tawa hadirin komunis di Moskow.
Pelanggaran Terhadap Rukun Iman
Kritik ideologi yang paling mendasar terletak pada bagaimana Tan Malaka secara terang-terangan melanggar prinsip-prinsip Rukun Iman dalam karya-karyanya. Meskipun ia lahir dari keluarga Minang yang taat, pengetahuan keislamannya memudar dan ia mulai mempelajari Islam dari kacamata orientalis Barat seperti Snouck Hurgronje serta tokoh Ahmadiyah.
Beberapa pelanggaran fatal terhadap akidah yang ia tulis dalam buku Madilog antara lain:
- Mengingkari Hakikat Surga (Iman kepada Hari Akhir): Tan Malaka menulis bahwa surga hanyalah “bayangan masyarakat dan bumi Arab” yang tandus, di mana air zam-zam dan bidadari dianggap sebagai khayalan idaman orang Badui. Hal ini jelas merupakan penolakan terhadap kegaiban yang wajib diyakini setiap muslim.
- Menolak Kenabian (Iman kepada Nabi): Ia menyatakan bahwa di zaman modern yang serba mesin dan listrik, kenabian tidak akan mungkin muncul lagi karena masyarakat sudah dianggap “cerdas”. Ia menganggap masa kenabian hanyalah sisa dari “zaman gelap dan gaib” yang sudah kuno.
Pelanggaran-pelanggaran ini menunjukkan bahwa Tan Malaka telah meninggalkan fondasi keimanan dan menggantinya dengan materialisme dialektika yang menafikan peran Tuhan dalam kehidupan sosial manusia.
Sikap Terhadap Peristiwa Madiun 1948
Sisi lain yang menunjukkan keberpihakan ideologisnya adalah sikap diamnya terhadap pembantaian para kiai dan santri pada Peristiwa Madiun 1948. Meskipun saat itu ia sedang dipenjara, dalam karyanya yang berjudul Uraian Mendadak, tidak ditemukan satu pun ungkapan bela sungkawa atau rasa kasihan terhadap para ulama yang menjadi korban.
Sebaliknya, ia hanya mengevaluasi mengapa kudeta Soviet di Madiun tersebut gagal secara taktis. Hal ini mengarahkan pada kesimpulan bahwa secara diam-diam ia menyetujui (silently agree) tindakan pengganyangan terhadap kaum beriman tersebut demi tegaknya Republik Soviet di Indonesia.
Kesimpulan
Sebagai penutup, kita harus menyadari bahwa keislaman Tan Malaka bukanlah sesuatu yang bisa diagung-agungkan begitu saja tanpa kritis. Memahami pemikiran Tan Malaka ibarat melihat sebuah puzzle yang berserakan. Jika kita hanya mengambil satu kepingan kecil (misalnya narasi perjuangannya), gambar yang terlihat mungkin nampak indah. Namun, jika kita menyusun semua kepingan karyanya, mulai dari pidato di Moskow, ejekannya terhadap surga, hingga dukungannya pada sistem Soviet, maka akan nampak gambar utuh seorang tokoh yang menjadikan agama sebagai alat politik, bukan sebagai keyakinan sejati.
Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga kejernihan akidah dari berbagai syubhat ideologi yang mencoba merusak dari dalam.
Wallahu A’lam bis Shawab.
***
Referensi:
Transkrip Pertemuan 1 Webinar: Kritik Ideologi Tan Malaka, Kolektif Wakaf Nalar.




