ARTIKEL ISLAMSejarah

Imam Syafi’i: Ulama yang Ibadahnya Seindah Ilmunya

Mengenal Sisi Ibadah Sang Imam Besar

Ketika kita mempelajari fikih mazhab Syafi’i, kita begitu terbiasa membahas pendapat-pendapat hukum, dalil-dalil, dan tarjih antara qaul qadim dan qaul jadid.

Ada satu sisi yang justru sering luput dari perhatian: siapa sebenarnya Imam al-Syafi’i sebagai seorang hamba Allah?

Catatan ini merangkum kajian tentang ibadah, wara’, dan keadilan (inshaf) Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i rahimahullah. Potret hidup seorang imam yang menjadikan ilmunya sebagai jalan menuju Allah.


Mengapa Kita Perlu Mengenal Ibadah Para Ulama?

Ada sebuah pertanyaan yang layak kita renungkan: “Apakah ilmu itu dicari selain untuk diamalkan?”

Para imam mazhab, termasuk Syafi’i bukan sekadar mesin penghasil fatwa atau ensiklopedia hukum berjalan. Mereka adalah ulama yang beramal dengan ilmunya, yang menjadikan setiap helaan nafas sebagai ibadah. Inilah yang membedakan mereka dari sekadar “orang yang tahu banyak.”

Ilmu tanpa amal, sebagaimana ditegaskan para ulama kita, adalah beban yang akan menjadi petaka di hari kiamat.


1. Ikhlas: Fondasi Segalanya

Ikhlas, dalam pengertian para ulama, adalah “memurnikan niat hanya untuk Allah semata, tanpa menginginkan selain wajah-Nya.” Syafi’i bukan hanya mengajarkan ikhlas, beliau mengajarkannya.

Kepada muridnya, Yunus bin Abdul A’la, beliau pernah berkata:

“Wahai Abu Musa, seandainya kamu bersungguh-sungguh dengan segenap kemampuanmu untuk memuaskan semua orang, maka tidak ada jalan ke sana. Kalau begitu, murnikanlah amalmu dan niatmu hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Beliau juga meninggalkan satu ungkapan: “Orang yang mengetahui riya’ hanyalah orang yang ikhlas.”

Maksudnya, hanya orang yang benar-benar berjuang melawan riya’ yang tahu betapa halusnya penyakit itu, karena “dengan kebalikannya, sesuatu menjadi jelas.”

Yang lebih mengesankan adalah bukti nyata keikhlasannya. Ketika seseorang menuduh Syafi’i menentang mazhab Abu Hanifah demi kepentingan duniawi, beliau menjawab dengan sederhana:

“Bagaimana mungkin? Justru dunia ada bersama mereka (ahlul ra’yi yang berkuasa saat itu). Kalau aku mau dunia, tentu aku akan bermuka dua dan merayu mereka. Aku tidak menentang Abu Hanifah kecuali karena beliau menyelisihi sunnah Rasulullah ﷺ.”

Dan menjelang akhir hayatnya, Syafi’i mengucapkan sesuatu yang hanya bisa keluar dari hati yang benar-benar murni:

“Aku tidak pernah berdebat dengan siapapun dengan keinginan agar ia salah. Dan aku berharap seluruh isi kitabku ini dipelajari semua orang, tanpa ada satu huruf pun yang dinisbatkan kepadaku.”


2. Mengikuti Sunnah: Pasangan Setia Ikhlas

Ikhlas dan ittiba’ (mengikuti sunnah) adalah dua syarat diterimanya amal dan keduanya tidak bisa dipisahkan. Syafi’i diakui oleh para ulama sezamannya sebagai figur yang paling konsisten dalam mengikuti hadis Nabi ﷺ.

Imam Ahmad bin Hanbal, yang juga merupakan murid al-Syafi’i bersaksi:

“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mengikuti hadis daripada al-Syafi’i.”

Bahkan Imam al-Baihaqi, setelah meneliti karya-karya al-Syafi’i secara detail, menulis:

“Aku mendapati Abu Abdillah Muhammad bin Idris al-Syafi’i adalah yang paling mengikuti sunnah dan paling kukuh dalam berhujah.”

Namun yang paling membekas adalah sikapnya dalam apa yang disebut para ulama sebagai tajjarrud lil-haqq, melepaskan diri sepenuhnya untuk kebenaran, tanpa peduli konsekuensinya.

Contohnya: dalam masalah boleh-tidaknya mengambil jizyah (pajak perlindungan) dari orang Arab. Abu Yusuf al-Hanafi berpendapat jizyah tidak boleh dipungut dari orang Arab.

Bagi Syafi’i yang notabene adalah seorang Arab dari Bani Muthallib, pendapat ini tentu menguntungkan. Tapi beliau justru berpendapat sebaliknya, karena hadis Nabi ﷺ menunjukkan kebolehannya.

Kata beliau:

“Kami orang Arab lebih ingin memilih pendapat ini, andai saja kebenaran tidak ada di tempat lain. Tapi kami tidak boleh berkata kecuali dengan kebenaran. Allah terlalu agung di mata kami untuk kami cintai selain apa yang telah Ia tetapkan.”


3. Shalatnya yang Mengagumkan

Ibrahim bin Muhammad, sepupu Syafi’i, berkata: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang shalatnya lebih indah daripada Muhammad bin Idris al-Syafi’i.”

Syafi’i memiliki sanad (rantai periwayatan) dalam shalatnya:

Al-Syafi’i => Muslim bin Khalid al-Zanji => Ibnu Juraij => ‘Atha’ => Abdullah bin Zubair => Abu Bakar al-Shiddiq => Nabi ﷺ => Jibril ‘alaihissalam

Harus diingat bahwa Syafi’i hidup di era di mana para perawi hadis masih bisa bertemu langsung dengan guru-guru yang sanadnya bersambung ke generasi sahabat. Maka sanad shalat semacam ini adalah jaminan cara beribadah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Hasan bin Sa’id menuturkan: “Kami datang menemui Syafi’i yang sedang shalat. Kami tidak pernah melihat wajah yang lebih tampan darinya, dan shalat yang lebih indah. Kami terpesona olehnya. Setelah selesai shalat, barulah ia berbicara.”

Qiyamul Lail

Syafi’i membagi malamnya menjadi tiga bagian:

  • Sepertiga pertama: menulis dan mengarang
  • Sepertiga tengah (yang paling utama untuk shalat): qiyamul lail
  • Sepertiga akhir: tidur, agar bisa bangun untuk shalat Subuh dalam kondisi segar

Al-Karabisi, yang pernah menginap bersama al-Syafi’i selama delapan puluh malam, bercerita:

“Beliau shalat sekitar sepertiga malam. Aku tidak pernah melihatnya membaca lebih dari 50 ayat. Kalau banyak, maka 100 ayat. Setiap melewati ayat rahmat, beliau berdoa kepada Allah untuk dirinya dan seluruh kaum mukminin.

Setiap melewati ayat azab, beliau berlindung kepada Allah dan memohon keselamatan untuk dirinya dan semua orang beriman  seolah rasa harap dan takut terkumpul sekaligus dalam dirinya.”


4. Khatam Al-Quran

Rutinitas tilawah al-Syafi’i bukan sesuatu yang mudah dicerna begitu saja:

Waktu Jumlah Khatam
Setiap bulan (di luar Ramadan) 30 kali khatam
Ramadan (dalam shalat) 60 kali khatam
Satu malam Ramadan 1 khatam penuh dalam shalat malam

Beliau shalat Tarawih sendiri di rumah karena menganggap bacaan jamaah di masjid terlalu sedikit. Dan semua khataman itu dilakukan di dalam shalat, bukan sekadar membaca tanpa shalat.

Suatu malam di waktu sahur, Ja’far bin Abi ‘Utsman al-Thayalisi masuk menemui Syafi’i. Sang imam menegurnya dengan lembut:

“Fikih telah menyibukkanmu dari Al-Quran! Aku shalat Isya lalu meletakkan mushaf di hadapanku dan mushaf itu tidak aku tutup sampai Subuh.”


5. Kedermawanan yang Tak Pernah Absen

Rabi’ bin Sulaiman, murid setia al-Syafi’i, berkata:

“Tidak pernah berlalu satu hari pun tanpa Syafi’i bersedekah. Beliau bahkan bersedekah di malam hari. Di bulan Ramadan, beliau banyak bersedekah dengan pakaian dan uang dirham.

Beliau memberi makan orang-orang fakir dan lemah, memperhatikan mereka, menanyakan kabar setiap orang yang dikenalnya, dan berbuat baik kepada mereka. Nafkah untuk keluarganya pun selalu dalam kondisi lapang.”


6. Wara’

Wara’ (kehati-hatian dari hal yang syubhat) adalah ciri khas para ulama rabbani. Dan Syafi’i adalah salah satu teladan terbaik dalam hal ini.

Bahr bin Nashr al-Khaulani berkata: “Aku tidak pernah melihat atau mendengar di zaman al-Syafi’i seseorang yang lebih bertakwa kepada Allah, lebih wara’, dan lebih indah suaranya membaca Al-Quran daripada al-Syafi’i.”

Beberapa kisah nyata yang menggambarkan wara’nya:

Kisah pertama: Syafi’i menitipkan pakaian kepada seorang tukang cuci (qassar). Toko tukang cuci itu terbakar, termasuk pakaian Syafi’i. Tukang cuci datang meminta keringanan. Syafi’i berkata:

“Para ulama berbeda pendapat tentang pertanggungjawaban tukang cuci dalam kasus seperti ini. Aku tidak melihat dengan jelas bahwa ganti rugi itu wajib, maka aku tidak akan menuntut ganti rugi apapun darimu.”

Padahal secara fikih, ia memiliki hak untuk menuntut. Tapi demi kehati-hatian, beliau melepaskan haknya.

Kisah kedua: Ketika hendak memasuki rumah seorang pejabat yang lantainya dilapisi dibaj (sutra tebal), Syafi’i berbalik dan tidak jadi masuk. Ia berkata: “Menghamparkannya tidak halal.”

Kisah ketiga: Ini mungkin yang paling mengejutkan. Syafi’i berkata:

“Aku tidak pernah kenyang sejak 16 tahun kecuali kenyang yang segera aku muntahkan, karena kenyang itu memberatkan tubuh, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mengundang kantuk, dan melemahkan pemiliknya dari ibadah.”

Kisah keempat: Ketika ditanya sebuah masalah sementara Yunus bin Abdul A’la ada di sisinya, al-Syafi’i mengalihkan pertanyaan itu kepada Yunus dengan berkata:

“Sudah lama aku tidak menjawab soal ini. Aku serahkan kepada orang ini karena aku tidak suka menjawab pertanyaan yang dalilnya tidak sedang aku kuasai saat ini.”

Seorang imam besar, pemilik mazhab, lebih memilih diam daripada berbicara tanpa kepastian. Ini merupakan pelajaran berharga bagi kita semua.


7. Zuhud: Dunia yang Tak Pernah Mengikatnya

Zuhud al-Syafi’i bukan zuhud pura-pura, bukan pakaian lusuh sebagai pertunjukan kesalehan. Zuhudnya terbukti dari kedermawanannya yang luar biasa (karena orang yang mencintai dunia tidak mudah memberi), dari harga dirinya yang tinggi, dan dari ketidakbutuhannya terhadap manusia.

Beliau pernah berkata:

“Mencari kelebihan dunia adalah hukuman yang Allah timpakan kepada ahlu tauhid.”

“Seandainya dunia dijual di pasar, aku tidak akan membelinya seharga satu roti, karena aku tahu betapa banyak petaka yang ada di dalamnya.”

“Aku telah akrab dengan kefakiran hingga aku tidak merasa asing lagi dengannya.”

Dan salah satu nasihatnya tentang kekayaan sejati:

“Jika kamu ingin hidup dalam kecukupan, maka jangan pernah merasa tidak ridha kecuali dengan sesuatu yang lebih rendah dari kondisimu sekarang.”

Muridnya, al-Muzani, pernah heran melihat al-Syafi’i selalu membawa tongkat. Beliau menjelaskan: “Agar aku selalu ingat bahwa aku adalah seorang musafir” musafir dari dunia menuju akhirat.


8. Sikapnya Terhadap Tasawuf

Karena zuhud selalu dikaitkan dengan tasawuf, perlu kita ketahui bagaimana al-Syafi’i memandang kaum sufi.

Beliau cukup keras dalam mengkritik mereka:

“Jika seseorang bertasawuf dari pagi hari, belum sampai Dzuhur kamu sudah mendapatinya menjadi orang dungu.”

“Tasawuf dibangun di atas kemalasan.”

“Tidaklah seseorang menjadi sufi sampai ia memiliki empat sifat: pemalas, banyak makan, banyak tidur, dan banyak omong kosong.”

Namun al-Imam al-Baihaqi menjelaskan konteks kritik ini: “Yang dimaksud al-Syafi’i adalah celaan terhadap mereka yang masuk dalam tasawuf hanya bermodalkan nama tanpa praktik, yang duduk tanpa bekerja dan membebani kaum muslimin, tanpa ilmu dan tanpa ibadah.”

Adapun mereka yang benar-benar bertawakal kepada Allah dan konsisten dengan adab syariat, Syafi’i justru bergaul dengan mereka dan mengambil pelajaran. Setelah sepuluh tahun bergaul dengan kaum sufi (yang tulus), beliau berkata:

“Aku tidak mendapat manfaat dari mereka kecuali dua kalimat: ‘Waktu adalah pedang’  dan ‘Sebaik-baik penjagaan adalah kamu tidak mampu berbuat dosa’ (yakni Allah mengalihkanmu dari dosa hingga kamu tidak melakukannya).”


9. Inshaf: Keadilan sebagai Ibadah

Inshaf (bersikap adil dan jujur) termasuk terhadap diri sendiri dan kelompok sendiri adalah ibadah yang berat. Banyak orang bisa shalat dan puasa, tapi gagal saat dituntut untuk bersikap adil kepada lawan debatnya.

Syafi’i adalah teladan dalam hal ini.

Tentang cara berdebat, beliau berkata:

“Aku tidak pernah berdebat dengan siapapun dengan keinginan agar ia salah. Setiap kali aku berbicara dengan seseorang, aku selalu ingin Allah memberinya taufik, kebenaran, dan penjagaan. Dan aku tidak peduli apakah kebenaran itu muncul dari lisanku atau dari lisannya.”

Bahkan beliau pernah berkata kepada para muridnya:

“Jika kamu menemukan hujah yang lebih kuat di tengah jalan, ambillah dan katakan bahwa itulah pendapatku karena aku akan berpegang padanya.”

Lebih mengesankan lagi adalah cara beliau memuji lawan ilmiahnya. Tentang Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani, murid utama Abu Hanifah yang sering menjadi lawannya dalam berdebat, Syafi’i berkata:

“Aku tidak pernah melihat orang gemuk yang seringan spiritnya seperti Muhammad bin al-Hasan. Dan aku tidak pernah melihat orang yang lebih fasih darinya ketika aku melihatnya membaca Al-Quran, seolah Al-Quran turun dalam bahasanya.”

Meski Syafi’i adalah seorang Quraisy dari Bani Muthallib, kalangan paling terhormat dalam nasab Arab, beliau tidak menjadikan nasab sebagai syarat pernikahan. Beliau berpendapat:

“Yang menjadi ukuran kesetaraan (kafaah) dalam pernikahan adalah agama, bukan nasab. Seandainya nasab menjadi ukuran, maka tidak ada seorang pun dari makhluk Allah yang setara dengan putri-putri Nabi ﷺ.”


Penutup

Potret Syafi’i yang kita lihat dalam catatan ini bukan potret seorang ulama yang “dingin” dan hanya berkutat dengan dalil. Ia adalah seorang hamba yang hidupnya adalah ibadah, shalatnya khusyuk, tilawahnya mengagumkan, sedekahnya tak pernah absen, wara’nya menjaga sampai hal-hal yang kecil, zuhudnya membuat dunia tidak punya tempat di hatinya, dan inshafnya menjadikannya manusia yang besar justru karena kerendahan hatinya.

Barangkali inilah kunci mengapa ilmunya begitu berkah dan mazhabnya bertahan hingga hari ini.

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk mengikuti jejaknya, bukan hanya dalam mengambil pendapat fikihnya, tapi dalam meniru akhlaknya

***.

Artikel ini ditulis berdasarkan materi kajian ilmiah dari Mahad Imam al-Muzani, dalam program Madkhal ilal Mazhab al-Syafi’i.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button