AqidahARTIKEL ISLAM

Aqidah Imam al-Syafi’i: Tentang Surga, Sahabat, dan Bid’ah

Catatan Kajian Majlis Kedua — Mahad Imam al-Muzani

Jika kajian pertama membahas fondasi akidah Syafi’i soal akal, iman, dan Al-Quran, maka kajian kali ini menyentuh tema-tema yang lebih hidup dan terasa dekat: apakah kita benar-benar akan melihat Allah di akhirat?

Bagaimana sikap Syafi’i terhadap para sahabat yang pernah berseteru? Dan apa sebenarnya yang dimaksud bid’ah menurut beliau?


Melihat Allah di Akhirat

Syafi’i meyakini bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah di hari kiamat dan beliau punya argumen yang cerdas untuk membuktikannya, bukan dari hadis, melainkan dari logika ayat Al-Quran itu sendiri.

Allah berfirman tentang orang-orang kafir:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka.”

Al-Syafi’i kemudian menyimpulkan:

«لما حجبهم في السخط كان في هذا دليل على أن أولياءه يرونه في الرضا»

“Ketika Allah menjadikan hijab sebagai hukuman bagi mereka yang dimurkai, ini menjadi dalil bahwa para wali-Nya akan melihat-Nya dalam keadaan ridha.”

Logikanya sederhana tapi kuat: kalau semua orang, mukmin maupun kafir, sama-sama tidak bisa melihat Allah, maka hijab tidak akan punya makna sebagai hukuman khusus bagi orang kafir. Justru karena Allah menjadikannya sebagai azab yang istimewa, itu berarti ada kelompok lain yang tidak terkena hijab, yaitu orang-orang beriman.

Muridnya, al-Rabi’, langsung bertanya: “Apakah engkau berpegang pada pendapat ini, wahai Abu Abdillah?”

Syafi’i menjawab tegas:

«نعم وبه أدين الله. لو لم يوقن محمد بن إدريس أنه يرى الله لما عبد الله عز وجل»

“Ya, dan dengan inilah aku beragama kepada Allah. Seandainya Muhammad bin Idris tidak yakin bahwa ia akan melihat Allah, ia tidak akan menyembah Allah.”


Cinta Ahlul Bait yang Dituduh Syiah

Al-Syafi’i terkenal sangat mencintai ahlul bait Nabi ﷺ, sampai-sampai sebagian orang menuduh beliau sebagai Syiah. Menanggapi tuduhan itu, beliau menulis bait yang masyhur:

«يا راكباً قف بالمحصَّب من منى ✦ واهتف بساكن خيفِها والناهضِ

إن كان رفضاً حبُّ آل محمدٍ ✦ فليشهد الثقلان أني رافضي»

“Wahai pengendara, berhentilah di al-Muhashshah dari Mina, dan serukanlah kepada penduduk Khaif dan yang hendak berangkat:

Jika mencintai keluarga Muhammad disebut rafidhah, maka saksikanlah wahai jin dan manusia bahwa aku adalah rafidhah.”

Tapi sikap beliau sesungguhnya adalah keadilan, bukan keberpihakan. Dalam bait yang lain beliau berkata:

«إذا نحن فضَّلنا عليّاً فإننا ✦ روافض بالتفضيل عند ذوي الجهلِ

وفضلُ أبي بكر إذا ما ذكرتُه ✦ رُميتُ بنصب عند ذكري للفضلِ

فلا زلتُ ذا رفضٍ ونصبٍ كلاهما ✦ بحبِّيهما حتى أُوسَّد في الرملِ»

“Jika kami memuliakan Ali, kami dituduh rafidhah oleh orang-orang bodoh. Dan jika aku menyebut keutamaan Abu Bakar, aku dituduh nashibi. Maka biarlah aku selamanya dituduh keduanya demi cintaku kepada keduanya hingga aku dibaringkan di tanah.”

Imam Ahmad bin Hanbal pun membela Syafi’i dari tuduhan ini:

«ما رأينا منه إلا خيراً ولا سمعنا منه إلا خيراً. اعلموا رحمكم الله أن الرجل من أهل العلم إذا منحه الله شيئاً من العلم وحرمه قرناؤه وأشكاله حسدوه فرموه بما ليس فيه — وبئست الخصلة في أهل العلم!»

“Kami tidak melihat darinya kecuali kebaikan dan tidak mendengar darinya kecuali kebaikan. Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian bahwa seorang alim, jika Allah menganugerahinya ilmu sementara teman-temannya tidak mendapatkan hal yang sama, mereka akan mendengkinya dan menuduhnya dengan sesuatu yang tidak ada padanya. Dan itulah seburuk-buruk sifat di kalangan para ulama!”


Para Sahabat: Tidak Boleh Dicela, Tidak Boleh Diperdebatkan

Pandangan al-Syafi’i tentang para sahabat sangat jernih. Beliau menulis dalam al-Risalah al-Qadimah:

«هم أدَّوا إلينا سنن رسول الله ﷺ وشاهدوه ونزل عليهم الوحي فعلموا ما أراد رسول الله ﷺ عاماً وخاصاً وعزماً وإرشاداً. وهم فوقنا في كل علم واجتهاد وورع وعقل وأمر يُدرَك به علم ويُستنبط به. وآراؤهم لنا أحمد وأولى بنا من آرائنا عندنا لأنفسنا»

“Mereka telah menyampaikan sunnah Rasulullah kepada kita, menyaksikan beliau secara langsung, dan wahyu turun kepada mereka sehingga mereka tahu apa yang dimaksud Rasulullah yang umum dan yang khusus, yang wajib dan yang anjuran. Mereka berada di atas kita dalam segala hal: ilmu, ijtihad, wara’, akal, dan semua sarana untuk memahami dan menyimpulkan hukum. Pendapat mereka lebih terpuji dan lebih layak bagi kita daripada pendapat kita sendiri.”

Soal mencela sahabat, beliau berkata dengan nada yang unik, beliau justru melihat sisi hikmahnya:

«ما أرى الناس ابتُلوا بشتم أصحاب رسول الله ﷺ إلا ليزيدهم الله بذلك ثواباً عند انقطاع عملهم»

“Aku tidak melihat orang-orang yang mencela para sahabat Rasulullah ﷺ itu kecuali sebagai ujian, agar Allah menambah pahala para sahabat ketika amal mereka sudah terputus.”

Adapun soal urutan keutamaan, beliau memegang urutan: Abu Bakar, Umar, Utsman, lalu Ali, dan beliau mengklaim ini adalah kesepakatan para sahabat dan tabiin. Beliau bahkan merangkumnya dalam bait:

«شهدتُ بأن الله لا شيء غيره ✦ وأشهد أن البعث حقٌّ وأُخلصُ

وأن أبا بكر خليفة أحمدٍ ✦ وكان أبو حفص على الخير يحرصُ

وأشهد ربي أن عثمان فاضلٌ ✦ وأن عليّاً فضلُه مُتخصِّصُ»

“Aku bersaksi bahwa Allah tidak ada sesuatu pun selain-Nya, dan aku bersaksi bahwa kebangkitan itu benar dengan tulus ikhlas.

Dan bahwa Abu Bakar adalah khalifah penerus Ahmad (Nabi Muhammad ﷺ), sedangkan Abu Hafsh (Umar) selalu bersemangat dalam kebaikan.

Dan aku bersaksi kepada Tuhanku bahwa Utsman adalah orang yang mulia, dan bahwa Ali memiliki keutamaan yang istimewa.”


Soal Pertikaian di Antara Sahabat

Ketika berbicara tentang perang saudara yang pernah terjadi di kalangan sahabat, al-Syafi’i memilih sikap yang diajarkan Umar bin Abdul Aziz dan beliau jadikan sebagai prinsipnya sendiri:

«تلك دماء طهَّر الله يديَّ منها فلا أُحب أن أُخضِّب لساني بها»

“Itu adalah darah yang Allah jaga tanganku darinya, maka aku tidak mau mengotori lisanku dengannya.”

Prinsipnya: jika tidak ada kebutuhan untuk membahas pertikaian antar sahabat, diam adalah yang paling utama. Tapi jika ada syubhat yang perlu diluruskan, ia diluruskan dengan adil dan proporsional.


Sikap Terhadap Aliran-Aliran yang Menyimpang

Tentang Syiah Rafidhah, Syafi’i berkata dengan ringkas tapi tegas:

«شرُّ عصابة»

“Kelompok paling buruk.”

Beliau tidak menerima kesaksian mereka dalam pengadilan, dan menjelaskan:

«لم أرَ أحداً من أصحاب الأهواء أشهد بالزور من الرافضة»

“Aku tidak pernah melihat seorang pun dari golongan ahwa’ yang lebih banyak memberikan kesaksian palsu daripada kaum Rafidhah.”

Tentang ahli kalam, sikapnya keras dan konsisten sejak kajian pertama. Beliau berkata:

«رأيي ومذهبي في أصحاب الكلام أن يُضرَبوا بالجريد ويُجلَسوا على الجمال ويُطاف بهم في العشائر والقبائل وينادى عليهم: هذا جزاء من ترك الكتاب والسنة وأخذ في الكلام»

“Pendapat dan mazhabku tentang ahli kalam adalah mereka dipukul dengan pelepah kurma, dinaikkan unta, dan diarak keliling kampung sambil diumumkan: inilah hukuman bagi orang yang meninggalkan Kitab dan Sunnah lalu mengambil ilmu kalam.”

Tentang klaim karamah, Syafi’i punya prinsip yang sangat menarik. Muridnya menyebut bahwa gurunya berkata: “Kalau kamu melihat seseorang berjalan di atas air, jangan terpedaya.”

Syafi’i justru merespons:

«والله قد قصَّر! إن رأيتَه يمشي في الهواء فلا تركنَنَّ إليه»

“Demi Allah, itu terlalu meremehkan masalah! Kalau kamu melihatnya terbang di udara sekalipun, jangan bergantung padanya.”

Maksudnya: karamah bukan ukuran kebenaran seseorang. Yang menjadi ukuran tetap Al-Quran dan sunnah.


Bid’ah: Lebih Kompleks dari yang Dikira

Ini mungkin poin yang paling sering disalahpahami. Syafi’i membagi bid’ah menjadi dua:

Pertama, bid’ah sesat, yaitu segala yang diada-adakan dan bertentangan dengan Al-Quran, sunnah, atsar, atau ijmak.

Kedua, yang baru tapi tidak tercela, yaitu sesuatu yang baru dalam bentuk, tapi memiliki akar dalam syariat dan tidak bertentangan dengan keempat sumber di atas. Beliau mencontohkan perkataan Umar tentang shalat Tarawih berjamaah: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”

Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan: yang dimaksud Syafi’i adalah bid’ah terpuji itu pada hakikatnya bukan bid’ah dalam pengertian syariat, ia hanya disebut bid’ah secara bahasa karena bentuknya baru, padahal akarnya ada dalam sunnah.

Wasiat beliau menjelang wafat merangkum prinsip ini dengan indah:

«يوصي بإحلال ما أحل الله في كتابه ثم على لسان نبيه وتحريم ما حرَّم، وألا يُجاوز ذلك إلى غيره — فإن مجاوزته ترك رضا الله»

“Berwasiat untuk menghalalkan apa yang Allah halalkan dalam Kitab-Nya kemudian melalui lisan Nabi-Nya, dan mengharamkan apa yang Ia haramkan, serta tidak melampaui itu ke selainnya — karena melampauinya berarti meninggalkan ridha Allah.”


Ijmak dan Larangan Menyelisihi Pemahaman Salaf

Al-Syafi’i adalah orang yang paling gigih membela ijmak sebagai hujah. Dikisahkan bahwa seorang syaikh memintanya menunjukkan dalil Al-Quran untuk ijmak. Beliau masuk rumah selama tiga hari penuh membaca Al-Quran dan akhirnya menemukan jawabannya pada ayat:

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ

“Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti selain jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam.”

Allah mengancam keras orang yang menyelisihi jalan kaum mukminin, ini berarti mengikuti jalan mereka (ijmak) adalah wajib.

Bahkan beliau menegaskan:

«الإجماع أكبر من الخبر المنفرد»

“Ijmak lebih kuat dari hadis yang diriwayatkan secara munfarid (sendirian).”

Alasannya: hadis yang sanadnya sahih sekalipun masih bisa mengandung kemungkinan kesalahan perawi, nasakh, ta’wil, atau ada riwayat lain yang lebih kuat.

Sementara ijmak tidak mengandung kemungkinan-kemungkinan itu.

Dan tentang menyelisihi pemahaman salaf, Syafi’i tidak main-main:

«من فارق هذا المذهب — أي مذهب الصحابة والتابعين — كان عندنا مفارقاً سبيل أصحاب رسول الله ﷺ وأهل العلم بعدهم، وكان من أهل الجهالة»

“Siapa yang meninggalkan manhaj ini — yaitu manhaj para sahabat dan tabiin — maka menurut kami ia telah meninggalkan jalan para sahabat Rasulullah dan para ulama setelah mereka. Dan ia termasuk golongan orang yang jahil.”


Artikel ini ditulis berdasarkan materi kajian ilmiah dari Mahad Imam al-Muzani, dalam program Madkhal ilal Mazhab al-Syafi’i.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button