Tuduhan Sekularis: Ulama Islam Mengkafirkan Para Ilmuwan dan Pemikir
Ringkasan Artikel Markaz Salaf

Peradaban Islam telah dikenal luas sebagai peradaban yang memancarkan kejayaan di berbagai bidang: ilmu pengetahuan, sosial, dan budaya.
Islam sendirilah yang menjadi batu fondasi kebangkitan ini, dengan prinsip-prinsipnya yang mendorong manusia untuk terus belajar, berpikir, dan berkarya hingga akhir hayat. Ilmu-ilmu agama, seperti ushul fiqih dan ilmu hadis, turut membentuk akal Islam sejak dini dengan menanamkan ketelitian, keseimbangan, dan kejujuran intelektual yang tinggi.
Namun, kaum sekularis masa kini membangun narasi sebaliknya: mereka mengklaim bahwa para ulama dan fukaha Islam senantiasa mengkafirkan para ilmuwan dan pemikir, serta bahwa Khilafah Islam justru berdiri sebagai musuh ilmu pengetahuan.
Narasi ini bersandar pada dua pijakan:
Pertama, ketidaktahuan khalayak umum yang tidak rajin membaca sumber-sumber primer;
Kedua, kekeliruan logika (mughālaṭah al-tarkīb), yakni membangun puluhan kesimpulan palsu di atas satu premis yang benar.
Pertama: Mayoritas Pemikir Islam Adalah Orang-orang yang Lurus
Siapa pun yang menelaah karya-karya ilmuwan besar Islam akan menemukan bahwa mayoritas mereka adalah orang-orang yang lurus dalam agama. Al-Bīrūnī, misalnya, matematikawan, astronom, dan sosiolog itu dalam karya-karyanya penuh dengan ungkapan Taradhi kepada para Khulafā’ Rāsyidīn dan sahabat Nabi, bahkan ia secara tegas mencela para zindīq seperti Ibn al-Muqaffa’ dan Ibn Abī al-‘Awjā’. Menjelang wafatnya, ia masih sempat bertanya kepada seorang fakih tentang masalah hukum fiqih, enggan meninggal dunia dalam keadaan jahil.
Ibn al-Nafīs, penemu peredaran darah kecil, adalah seorang Syafi’i yang mengajar fiqih di Masjid Al-Azhar dan menyusun syarh atas kitab al-Tanbīh karya al-Syīrāzī. Ia menolak minum khamr sebagai obat di saat sakaratul maut, seraya berkata: “
Aku tidak mau menghadap Allah dengan sesuatu dari khamr dalam perutku.”
Adapun al-Zahrāwī, bapak ilmu bedah, dipuji oleh al-Ḥumaydī, seorang ulama hadis terkemuka, sebagai orang yang memiliki keutamaan, agama, dan ilmu.
Kedua: Para Khalifah dan Sultan adalah Pelindung Ilmu Pengetahuan
Jauh dari kesan memusuhi ilmu, para khalifah Islam justru menjadi pelindung dan pendukung utamanya. Khalifah al-Ma’mūn mendirikan Bayt al-Ḥikmah dan menghimpun para ilmuwan dari berbagai disiplin.
Al-Khawārizmī menyusun kitab al-Jabr wa al-Muqābala atas permintaan langsung al-Ma’mūn, sebuah kitab yang menjadi fondasi ilmu aljabar dan melahirkan istilah algoritma dalam komputasi modern. Al-Bīrūnī menemani Sultan Maḥmūd al-Ghaznawī dalam ekspedisi militer ke India, mempelajari bahasa Sansekerta, dan mempersembahkan karya besarnya al-Qānūn al-Mas’ūdī kepada putranya, Sultan Mas’ūd.
Ketiga: Makna “Ilhad” dalam Khazanah Islam Berbeda dengan Maknanya Kini
Kaum sekularis gagal memahami bahwa istilah ilhad dalam literatur Islam klasik tidak identik dengan “ateisme” dalam pengertian modern. Dalam tradisi Islam, ilhad bermakna “penyimpangan dari kebenaran” dalam bentuk apa pun, termasuk ta’wil yang keliru terhadap nama dan sifat Allah.
Para ulama ahli hadis terkadang menyebut kelompok mu’awwilah sebagai mulhid tanpa bermaksud mengkafirkan mereka, sebagaimana Ibn Taimiyah menyebut al-‘Izz bin ‘Abd al-Salām demikian dalam satu aspek, namun tetap mengutip dan memujinya di aspek lain.
Keempat: Tuduhan Mengkafirkan Ibn Rusyd adalah Dusta
Ibn Rusyd (Averroes) adalah seorang fakih, hakim, dan ulama Muslim sejati. Para ulama Islam memujinya dengan pujian yang luar biasa.
Al-Dzahabī menyebutnya “al-‘allāmah, faylasūf al-waqt” dan memuji kitab Bidāyat al-Mujtahid sebagai yang terbaik di bidangnya. Kitab itu masih diajarkan hingga kini di program pascasarjana Universitas Al-Azhar dan universitas-universitas Islam lainnya.
Adapun citra Ibn Rusyd sebagai “penentang agama” adalah produk al-Rusydiyyah al-Lātīniyyah, versi Eropa yang menyimpang, yang kemudian diambil mentah-mentah oleh kaum sekularis Arab tanpa kembali kepada teks asli karyanya.
Penutup
Kesimpulannya, para ilmuwan dan pemikir yang dikritik oleh fukaha bukanlah karena keahlian mereka dalam ilmu kedokteran, matematika, atau sains terapan, melainkan karena penyimpangan akidah yang menyentuh hal-hal yang ma’lūm min al-dīn bi al-ḍarūrah, seperti pengingkaran terhadap kebangkitan jasmani atau keyakinan tentang ilmu Allah.
Adapun mayoritas ilmuwan Muslim adalah orang-orang yang lurus, dicintai oleh para ulama, dan dilindungi oleh para penguasa Islam. Peradaban Islam adalah peradaban yang memeluk ilmu pengetahuan, bukan memusuhinya.
Referensi:
Ringkasan ini disarikan dari artikel ilmiah berjudul “Da’wā al-‘Ilmāniyyīn Anna ‘Ulamā’ al-Islām Yukaffirūna al-‘Abāqirah wa al-Mufakkirīn“ (Tuduhan Kaum Sekularis bahwa Ulama Islam Mengkafirkan Para Jenius dan Pemikir), karya ‘Alā’ Ḥasan Ismā’īl, peneliti di Markaz Salaf li al-Buḥūts wa al-Dirāsāt (Salaf Center for Research and Studies).
Artikel ini termasuk dalam seri Awrāq ‘Ilmiyyah, nomor 457.





https://shorturl.fm/CGkfe